WAHANANEWS.CO, Jakarta - Diguncang operasi militer terbuka, Venezuela kembali menyeret memori panjang intervensi Amerika Serikat di Amerika Latin setelah Presiden Nicolas Maduro diburu dan ditangkap pada Sabtu (3/1/2026).
Dilancarkan Amerika Serikat, operasi militer penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dilakukan pada Sabtu (3/1/2026) dengan dalih pemberantasan narkoba.
Baca Juga:
Indonesia Tegaskan Produk Nonhalal Tak Wajib Label dan Sertifikat Halal
Disebut sebagai puncak kampanye berbulan-bulan, langkah Washington ini menegaskan kembali pola lama intervensi AS di kawasan Amerika Latin.
Dicatat sejarah, Amerika Serikat memiliki rekam jejak panjang keterlibatan militer, operasi rahasia, dan dukungan terhadap rezim otoriter di Amerika Latin sejak era Perang Dingin.
Berikut rangkaian intervensi utama Amerika Serikat di Amerika Latin yang membentuk lanskap politik kawasan hingga hari ini.
Baca Juga:
Prabowo Tegaskan Stabilitas, Kepastian Hukum, dan Reformasi SDM pada Acara Iftar di U.S. Chamber of Commerce
Pada Guatemala, digulingkan Presiden Jacobo Arbenz Guzman oleh pasukan bayaran yang dilatih dan dibiayai Washington pada Jumat (27/6/1954).
Terjadi kudeta tersebut setelah kebijakan reformasi agraria Arbenz dinilai mengancam kepentingan United Fruit Corporation, perusahaan Amerika Serikat yang sangat berpengaruh.
Diakui secara resmi pada 2003, keterlibatan CIA dalam kudeta Guatemala dilakukan atas nama perang melawan komunisme.
Di Kuba, gagal menggulingkan Fidel Castro upaya 1.400 militan anti-Castro yang dilatih dan didanai CIA dalam pendaratan di Teluk Babi pada Jumat–Selasa (15–19/4/1961).
Tewas lebih dari seratus orang di masing-masing pihak dalam pertempuran yang berjarak sekitar 250 kilometer dari Havana tersebut.
Di Republik Dominika, dikirim marinir dan pasukan terjun payung AS ke Santo Domingo pada 1965 untuk menumpas pemberontakan pro Juan Bosch.
Didukung AS, operasi tersebut dilakukan dengan alasan ancaman komunisme setelah Bosch, presiden sayap kiri, digulingkan para jenderal pada 1963.
Dalam periode yang sama, didukung Washington sejumlah kediktatoran militer Amerika Latin sebagai benteng melawan gerakan kiri bersenjata.
Di Chile, dibantu secara aktif diktator Augusto Pinochet dalam kudeta terhadap Presiden Salvador Allende pada Kamis (11/9/1973).
Di Argentina, didukung junta militer oleh Menteri Luar Negeri AS Henry Kissinger pada 1976, menurut dokumen rahasia yang dibuka pada 2003.
Tercatat setidaknya 10.000 pembangkang Argentina menghilang selama periode tersebut.
Pada 1970-an hingga 1980-an, digelar Operasi Condor oleh enam rezim militer Amerika Selatan dengan dukungan diam-diam Amerika Serikat untuk melenyapkan oposisi sayap kiri.
Di Amerika Tengah, meletus perang saudara Nikaragua setelah pemberontakan Sandinista menggulingkan diktator Anastasio Somoza pada 1979.
Diizinkan Presiden Ronald Reagan, CIA memberikan bantuan 20 juta dolar AS kepada Contra yang sebagian didanai penjualan senjata ilegal ke Iran.
Berakhir pada April 1990, perang saudara Nikaragua menewaskan sekitar 50.000 orang.
Di El Salvador, dikirim penasihat militer AS untuk menumpas pemberontakan FMLN dalam perang saudara 1980–1992 yang menelan 72.000 korban jiwa.
Di Grenada, dilancarkan Operasi Urgent Fury oleh AS pada Selasa (25/10/1983) setelah Perdana Menteri Maurice Bishop dibunuh junta sayap kiri.
Dikecam luas oleh Majelis Umum PBB, operasi yang diklaim melindungi warga AS itu berakhir pada Kamis (3/11/1983) dengan lebih dari seratus korban tewas.
Di Panama, diperintahkan intervensi militer oleh Presiden George W. Bush pada 1989 usai pemilu yang dipersengketakan.
Menyerah Jenderal Manuel Noriega, mantan kolaborator intelijen AS, setelah sekitar 27.000 tentara Amerika Serikat diterjunkan dalam Operasi Just Cause.
Tewas resmi sekitar 500 orang dalam operasi tersebut, meski jumlah korban diyakini mencapai ribuan.
Dipenjara lebih dari dua dekade di Amerika Serikat, Noriega kemudian menjalani hukuman tambahan di Prancis dan Panama atas kasus perdagangan narkoba.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]