WAHANANEWS.CO, Jakarta - Angkatan Laut Amerika Serikat akan menamai kapal induk terbarunya USS Musk, mengambil nama dari miliarder dan pendiri Tesla, Elon Musk.
Kapal yang sebelumnya direncanakan bernama USS Enterprise ini berganti nama atas perintah langsung dari eksekutif.
Baca Juga:
Tarif 32% Trump Ancam Ekspor Indonesia, Pemerintah Didesak Bertindak Cepat
Dikutip dari berbagai sumber, USS Musk termasuk dalam kelas Gerald R. Ford, yang merupakan armada kapal induk terbaru dan tercanggih milik Angkatan Laut AS.
Kapal ini menjadi yang ketiga dalam kelasnya dan salah satu kapal militer terbesar di dunia dengan bobot mencapai 100 ribu ton.
USS Musk akan memainkan peran strategis dalam menjaga kepentingan AS di perairan internasional.
Baca Juga:
Amazon Ajukan Tawaran Beli TikTok, ByteDance Belum Menanggapi
Kapal ini mampu membawa hingga 75 pesawat tempur, termasuk Boeing F/A-18E/F Super Hornet, Boeing EA-18G Growler, Grumman C-2 Greyhound, Northrop Grumman E-2 Hawkeye, serta pesawat tempur tanpa awak.
Dilengkapi dengan teknologi canggih, USS Musk menggunakan Sistem Peluncuran Pesawat Elektromagnetik (EMALS), yang menggantikan sistem ketapel uap konvensional.
Teknologi ini sempat menuai kritik dari Donald Trump pada 2017, yang menilai sistem digital seperti EMALS terlalu boros dan tidak efisien dibandingkan tenaga uap.
Selain itu, kapal induk ini dirancang dengan sejumlah fitur modern untuk meningkatkan efisiensi dan menekan biaya operasional.
Salah satunya adalah sistem otomatisasi yang memungkinkan pengurangan jumlah awak kapal hingga beberapa ratus orang dibandingkan kapal induk kelas Nimitz.
USS Musk juga dilengkapi dengan sistem pertahanan canggih, termasuk alat penangkapan modern, rudal RIM-162 Evolved SeaSparrow, radar multifungsi AN/SPY-3 X Band, serta reaktor nuklir generasi terbaru.
Kapal ini diperkirakan akan diluncurkan secara resmi pada November dan mulai beroperasi penuh pada 2029.
USS Musk dirancang untuk menggantikan USS Dwight D. Eisenhower, kapal induk yang dinamai dari Presiden AS ke-34 yang juga merupakan jenderal pada Perang Dunia II.
Keberadaan USS Musk menjadi bagian dari kebijakan "Make Shipbuilding Great Again" yang dicanangkan oleh Donald Trump.
Program ini bertujuan menghidupkan kembali industri galangan kapal Angkatan Laut AS di tengah kekhawatiran terhadap ekspansi armada China.
"Dulu kita memproduksi banyak kapal. Sekarang, kita tidak hanya akan membuatnya lagi, tetapi juga dengan lebih cepat," ujar Donald Trump dalam pernyataan yang dikutip Anadolu Agency.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]