WAHANANEWS.CO - Dubai meluncurkan program insentif bernilai lebih dari 3.000 Dirham atau sekitar Rp14,6 juta bagi warga yang berhasil mengajak keluarga dan teman berkunjung, di tengah upaya menghidupkan kembali sektor pariwisata yang terdampak konflik berkepanjangan di Timur Tengah.
Otoritas Dubai di Uni Emirat Arab (UEA) menawarkan berbagai insentif senilai lebih dari 3.000 Dirham atau sekitar Rp14,6 juta kepada penduduk yang mengundang keluarga maupun teman untuk berwisata ke kota tersebut melalui program bertajuk "A Dubai Invite", Rabu (22/7/2026).
Baca Juga:
Drone Serang Kilang Minyak Fujairah, UEA Tutup Bandara
Program tersebut diluncurkan oleh Departemen Ekonomi dan Pariwisata Dubai dan diumumkan melalui kantor media Pemerintah Dubai lewat media sosial X sebagai bagian dari upaya meningkatkan kembali kunjungan wisatawan.
"Departemen Ekonomi dan Pariwisata Dubai meluncurkan 'A Dubai Invite', yang mengajak para penduduk untuk menjadi duta kota dengan menyambut orang-orang terkasih mereka di Dubai," demikian pengumuman kantor media Dubai.
Program "A Dubai Invite" dijadwalkan berlangsung hingga akhir Oktober 2026.
Baca Juga:
Iran Klaim Hantam 500 Tentara AS di Dubai
Musim panas umumnya menjadi periode sepi kunjungan wisatawan di Uni Emirat Arab karena suhu udara di negara gurun tersebut dapat mencapai 50 derajat Celsius.
Berdasarkan informasi di situs resmi Pemerintah Dubai, warga yang mengundang keluarga atau teman untuk berkunjung pada periode 20 Juli hingga 31 Oktober 2026 berhak memperoleh berbagai keuntungan senilai lebih dari 3.000 Dirham, mulai dari akomodasi hotel, makan malam, tiket destinasi wisata, hingga fasilitas lainnya.
Penduduk Dubai juga dapat mendaftarkan nama tamu yang akan diundang melalui situs resmi pemerintah agar dapat menikmati seluruh manfaat dalam program tersebut.
Dengan jumlah kunjungan wisatawan mencapai sekitar 19,5 juta orang setiap tahun, Dubai selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata utama di kawasan Timur Tengah sekaligus tujuan favorit kalangan pebisnis, selebritas, dan wisatawan kelas atas.
Meski tidak terdampak langsung oleh meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, sektor pariwisata Uni Emirat Arab ikut tertekan akibat perang yang pecah pada akhir Februari lalu karena memengaruhi citra kawasan Teluk sebagai destinasi yang aman.
UEA juga sempat terdampak serangan rudal dan drone Iran yang menghantam sejumlah hotel, termasuk di kawasan Palm dan resor ikonik Burj Al Arab, sehingga memicu banyak wisatawan meninggalkan negara tersebut pada puncak musim liburan musim dingin.
Sejak gencatan senjata mulai berlaku pada awal April 2026, jumlah wisatawan yang datang perlahan meningkat, meski pelaku industri pariwisata menyebut sebagian besar hotel masih mengandalkan tamu domestik.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]