WAHANANEWS.CO, Jakarta - Euforia Piala Dunia 2026 terancam tak bisa dirasakan langsung oleh ribuan suporter karena urusan visa menuju Amerika Serikat menjadi hambatan besar.
Ribuan pendukung dari sejumlah negara peserta Piala Dunia 2026 diprediksi berisiko gagal hadir langsung ke stadion meski tim nasional mereka tampil di turnamen sepak bola terbesar dunia tersebut.
Baca Juga:
Kinerja Melesat 345,97 Persen, PTDI Rombak Struktur Pengurus Perusahaan
Masalah itu mencuat karena sebagian negara peserta menghadapi pembatasan perjalanan, aturan visa yang lebih ketat, hingga tingkat penolakan visa yang tinggi.
Analisis BBC World Service menunjukkan lebih dari seperempat negara peserta Piala Dunia 2026 menghadapi hambatan perjalanan menuju Amerika Serikat.
Kondisi tersebut membuat sebagian suporter harus berhadapan dengan proses visa yang rumit sebelum bisa menyaksikan pertandingan tim kesayangannya.
Baca Juga:
Soundbar Berubah Jadi 'Keyboard Hantu', Komputer Korban Bisa Diperintah Diam-diam
Salah satu kisah datang dari suporter Irak bernama Abdulla Adnan.
Adnan langsung membeli tiket pertandingan setelah tim nasional Irak memastikan lolos ke Piala Dunia 2026.
Namun, harapannya untuk menyaksikan Irak bertanding langsung di Amerika Serikat kandas karena ia kesulitan mendapatkan visa.
"Pergi ke pertandingan, berada di stadion, bersama kerumunan suporter, bersorak, dan melihat tim saya bermain adalah hal yang sangat berarti bagi saya," kata Adnan, Jumat (12/6/2026).
Bagi Adnan, menonton pertandingan Piala Dunia secara langsung bukan sekadar perjalanan wisata.
"Tidak ada perasaan lain yang bisa menandinginya," kata Adnan.
Irak sebenarnya tidak masuk dalam daftar negara yang dikenai larangan perjalanan oleh Amerika Serikat.
Namun, layanan visa AS di Irak dihentikan sementara karena situasi keamanan di kawasan tersebut.
Adnan kemudian mencoba mengurus visa melalui Yordania.
Upaya itu tetap gagal karena permohonannya ditolak dengan alasan ia bukan warga negara setempat.
Setelah mengeluarkan sekitar USD 1.800 atau sekitar Rp 32 juta untuk tiket dan perjalanan, Adnan akhirnya memilih menyerah.
Kondisi serupa juga disebut dapat dialami suporter dari sejumlah negara peserta lain.
Empat negara peserta, yakni Iran, Haiti, Senegal, dan Pantai Gading, turut terdampak kebijakan pembatasan visa AS.
Situasi tersebut memicu kekecewaan dari kelompok suporter yang merasa kesempatan mereka hadir di Piala Dunia menjadi semakin terbatas.
Julien Kouadio Adonis dari Komite Nasional Pendukung Timnas Pantai Gading menilai kebijakan itu tidak adil bagi pendukung dari negara-negara tertentu.
"Ini adalah bentuk segregasi yang tidak berani disebutkan secara terang-terangan, tetapi buktinya ada," kata Adonis.
Ia mempertanyakan mengapa pembatasan tersebut lebih banyak dirasakan negara-negara di luar Eropa.
"Tidak ada negara Eropa yang menghadapi pembatasan seperti ini," kata Adonis.
Menurut Adonis, kebijakan itu memperlihatkan adanya perlakuan yang berbeda terhadap suporter dari Afrika.
"Mengapa Afrika?" kata Adonis.
Akibat aturan tersebut, organisasinya memutuskan tidak mengirim rombongan suporter ke Amerika Serikat.
Adonis menilai negara yang menjadi tuan rumah Piala Dunia seharusnya mampu menerima pendukung dari seluruh tim peserta.
"Sepakbola adalah sebuah pertunjukan, dan pertunjukan membutuhkan penonton," kata Adonis.
Data Departemen Luar Negeri AS menunjukkan tingkat penolakan visa warga dari 11 negara peserta Piala Dunia mencapai lebih dari 40 persen.
Negara-negara tersebut antara lain Aljazair, Senegal, Ghana, Iran, Yordania, hingga Republik Demokratik Kongo.
Tingginya angka penolakan itu membuat kekhawatiran terhadap akses suporter ke Piala Dunia 2026 semakin besar.
Pengacara imigrasi, Celine Atallah, mengatakan FIFA Pass memang dapat membantu pemegang tiket mendapatkan jadwal wawancara visa lebih cepat.
Namun, fasilitas tersebut tidak otomatis membuat permohonan visa disetujui.
"FIFA bisa menjual tiket, tetapi pemerintah AS yang menentukan siapa yang mendapatkan visa," ujar Atallah.
Keluhan juga datang dari Ketua Asosiasi Suporter Yordania, Abu Kass.
Kass mengaku permohonan visanya ditolak meski telah membawa puluhan dokumen pendukung saat wawancara.
"Dalam tiga hingga empat bulan terakhir, banyak permohonan ditolak," kata Kass.
Ia mempertanyakan peluang suporter biasa jika pengurus asosiasi suporter saja tidak mendapat visa.
"Jika ketua asosiasi suporter saja ditolak, lalu siapa yang akan diterima?" kata Kass.
Menanggapi kritik tersebut, Departemen Luar Negeri AS menyatakan siap menyambut pengunjung dari seluruh dunia untuk Piala Dunia 2026.
Namun, pemerintah AS menegaskan setiap permohonan visa tetap harus melewati proses pemeriksaan ketat.
Pemeriksaan tersebut disebut dilakukan untuk menjaga keamanan negara selama penyelenggaraan turnamen.
Piala Dunia 2026 akan menjadi ajang besar yang digelar di Amerika Serikat bersama Kanada dan Meksiko.
Namun, bagi sebagian suporter, tantangan terbesar bukan hanya membeli tiket pertandingan, melainkan mendapatkan izin masuk ke negara tuan rumah.
Persoalan visa ini berpotensi membuat atmosfer Piala Dunia 2026 terasa berbeda bagi negara-negara yang pendukungnya kesulitan hadir langsung di stadion.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina