WAHANANEWS.CO, Jakarta - Sebuah modus yang terkesan profesional ternyata diduga menjadi pintu masuk operasi spionase modern, setelah aliansi intelijen Five Eyes mengungkap dugaan upaya mata-mata China menyamar sebagai perekrut kerja untuk memburu informasi sensitif dari pegawai pemerintah Barat.
Peringatan itu disampaikan dalam pernyataan bersama badan-badan intelijen Inggris, Amerika Serikat, Australia, Kanada, dan Selandia Baru pada Rabu (3/6/2026), yang mengungkap adanya jaringan perekrutan palsu yang menyasar individu dengan akses terhadap informasi strategis.
Baca Juga:
Bukan Soal Nilai atau IQ, Ini 7 Ciri Orang Cerdas yang Jarang Disadari
Badan intelijen tersebut menyebut agen-agen yang diduga terkait intelijen militer China memasang iklan lowongan kerja fiktif untuk posisi seperti analis kebijakan luar negeri maupun pertahanan di berbagai platform profesional, termasuk LinkedIn.
" Mereka menekan para kandidat untuk mengungkapkan informasi non-publik selama proses wawancara, termasuk dengan menulis laporan," bunyi pernyataan badan-badan intelijen tersebut yang dikutip AFP, Kamis (4/6/2026).
Dalam praktiknya, para pelaku disebut menyamar sebagai konsultan swasta yang tampak kredibel dan mengklaim beroperasi dari luar wilayah China untuk menghindari kecurigaan calon korban.
Baca Juga:
Kisah Robert Albon, Pria yang Sebarkan Sperma ke Seluruh Dunia dan Kini Gagal Dapat Hak sebagai Ayah
Sasaran utama operasi tersebut adalah individu yang memiliki izin keamanan, personel militer, akademisi, hingga jurnalis yang dinilai memiliki akses terhadap informasi bernilai strategis.
Menurut penjelasan Five Eyes, personel militer dapat diminta memberikan rincian mengenai aktivitas satuan, lokasi pangkalan, hingga informasi terkait kapal perang yang mereka operasikan atau tempati.
Sebagai imbalan, para peserta yang terjebak dalam skema itu dilaporkan menerima pembayaran mulai dari ratusan hingga ribuan dolar Amerika Serikat untuk setiap laporan yang mereka serahkan.
Seiring meningkatnya kualitas dan sensitivitas informasi yang diberikan, para korban disebut berpotensi mendapatkan tawaran bayaran yang lebih besar.
Lembaga-lembaga intelijen tersebut menegaskan bahwa bahkan informasi yang tidak tergolong rahasia sekalipun tetap memiliki nilai bagi pemerintah China karena dapat digunakan untuk melengkapi gambaran intelijen yang lebih luas.
"Jenis data tertentu dapat membahayakan nyawa personel militer atau personel lain di garis depan, dapat melemahkan kemakmuran ekonomi kita, dan memungkinkan campur tangan dalam proses demokrasi kita," tulis lembaga-lembaga tersebut.
Mereka juga mengungkap telah menemukan sejumlah kasus di mana individu yang tertipu dalam skema tersebut akhirnya menghadapi konsekuensi serius berupa tuntutan pidana, kehilangan pekerjaan, hingga pencabutan izin keamanan.
Dalam beberapa tahun terakhir, badan-badan intelijen Barat memang berulang kali menyampaikan kekhawatiran mengenai aktivitas spionase yang diduga berasal dari China, Rusia, dan Iran.
Kekhawatiran itu kembali menguat setelah pada bulan lalu dua warga negara berkewarganegaraan ganda China-Inggris dinyatakan bersalah oleh pengadilan di London karena memata-matai para aktivis pro-demokrasi Hong Kong atas nama Beijing.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]