WAHANANEWS.CO, Jakarta - Jumlah korban meninggal dunia akibat penindakan aparat terhadap gelombang protes nasional di Iran terus meningkat dan kini mencapai 2.571 orang.
Data tersebut disampaikan Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat (AS), sebagaimana dilansir AP News, Rabu (14/1/2026).
Baca Juga:
Trump Serukan Warga Iran Terus Berdemo, Klaim Bantuan Sedang Menuju Lokasi
HRANA menyebut angka korban tewas ini sebagai yang tertinggi dalam beberapa dekade terakhir di Iran, mencerminkan eskalasi kekerasan yang signifikan dalam penanganan aksi demonstrasi.
Untuk pertama kalinya sejak gelombang protes pecah, televisi pemerintah Iran mengakui adanya korban meninggal dunia, dengan seorang pejabat negara menyebut para korban sebagai martir.
Aksi protes massal tersebut bermula pada akhir Desember 2025, dipicu oleh memburuknya kondisi ekonomi nasional, termasuk melonjaknya harga kebutuhan pokok dan tingginya tingkat pengangguran.
Baca Juga:
Ribuan Orang Tewas, Demo Iran Disebut Lebih Brutal dari 1979
Namun seiring waktu, tuntutan massa berkembang menjadi penentangan terbuka terhadap sistem teokrasi Iran serta kepemimpinan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Di ibu kota Teheran, muncul grafiti dan seruan terbuka yang menuntut kematian Khamenei, sebuah tindakan yang berpotensi berujung pada hukuman mati menurut hukum Iran.
Kelompok aktivis melaporkan bahwa dari total korban meninggal, 2.403 orang merupakan demonstran, sementara 147 lainnya diketahui berafiliasi dengan pemerintah.