WAHANANEWS.CO, Jakarta - Dunia akademik Inggris diguncang kabar duka setelah sosiolog Jason Arday ditemukan meninggal dunia hanya beberapa hari setelah mengundurkan diri dari Universitas Cambridge di tengah tuduhan plagiarisme dan tekanan publik yang terus membesar.
Arday ditemukan meninggal dunia pada Jumat (14/8/2026) setelah dalam beberapa pekan terakhir menjadi pusat perhatian media Inggris terkait karya akademik dan sejumlah klaim pencapaiannya.
Baca Juga:
Semarakkan Gebyar HUT RI ke-81, Kelurahan Kuta Gambir Berkolaborasi dengan Karang taruna
Nama Arday sebelumnya mencuri perhatian internasional ketika pada 2023 mencatat sejarah sebagai profesor kulit hitam termuda di Universitas Cambridge pada usia 37 tahun.
Perjalanan akademiknya kemudian memasuki periode penuh tekanan setelah muncul tuduhan plagiarisme serta pertanyaan mengenai klaim prestasi olahraga dan kegiatan penggalangan dana yang pernah disampaikannya.
Media Inggris melaporkan Arday ditemukan dalam kondisi tidak responsif di sebuah rumah di kawasan Battersea, London selatan, pada Jumat sore.
Baca Juga:
VOPUTSI Juara 1 Turnamen Volly HIPPTIS CUP ll
Kabar kematiannya muncul pada pekan yang sama dengan peluncuran memoarnya berjudul Great and Unfortunate Things.
Buku tersebut tetap diterbitkan oleh Simon & Schuster meskipun kontroversi mengenai kredibilitas Arday tengah berkembang.
Keluarga Arday melalui penerbitnya menyampaikan keterkejutan dan kesedihan mendalam atas kematian tersebut.
“Kami sangat terkejut kehilangan ayah, pasangan, saudara, paman, dan anak yang luar biasa ini,” kata pihak keluarga, dikutip Sabtu (15/8/2026).
Keluarga menilai tekanan publik yang dialami Arday telah bergerak terlalu jauh dan memberikan beban berat kepadanya.
“Disinformasi itu terlalu berat bagi Jason, yang merupakan pria lembut dan selalu ingin melihat sisi terbaik dari setiap orang,” ujar pihak keluarga.
Mereka juga menyebut Arday selama tiga tahun terakhir menjadi sasaran pelecehan berkelanjutan dari pihak-pihak yang dinilai berusaha meruntuhkan reputasinya.
Kepolisian Metropolitan London mengonfirmasi seorang pria berusia 41 tahun dinyatakan meninggal dunia di Battersea tanpa mengungkap identitasnya.
“Saat ini kematiannya diperlakukan sebagai kematian yang tidak terduga, tetapi tidak diyakini mencurigakan,” kata pihak kepolisian.
Universitas Cambridge turut menyampaikan belasungkawa atas kabar meninggalnya Arday.
Wakil Rektor Universitas Cambridge Deborah Prentice mengaku sangat berduka setelah sebelumnya mengumumkan bahwa universitas akan menyelidiki proses perekrutan Arday.
“Simpati terdalam kami sampaikan kepada keluarga dan teman-teman Jason Arday pada masa yang sangat sulit ini,” ujar Prentice.
Arday sebelumnya mengundurkan diri sebagai profesor sosiologi pendidikan di Universitas Cambridge setelah kontroversi mengenai rekam jejak akademiknya terus berkembang.
Dalam surat pengunduran dirinya, Arday mengungkapkan bahwa tekanan berkepanjangan telah memberikan dampak besar terhadap dirinya dan orang-orang terdekatnya.
“Tuduhan, spekulasi, dan komentar publik yang tak henti-hentinya telah memberikan dampak yang sangat mendalam bagi saya dan orang-orang yang saya cintai,” tulis Arday.
Ia menyatakan keputusannya meninggalkan Cambridge tidak boleh dianggap sebagai pengakuan terhadap berbagai tuduhan yang berkembang mengenai dirinya.
Arday membantah tuduhan plagiarisme meskipun mengakui terdapat sejumlah kesalahan dalam proses penyusunan disertasinya.
Sejumlah pendukung Arday yang terdiri atas puluhan akademisi dan politisi menilai tuduhan plagiarisme terhadapnya sebagai kampanye yang bertujuan merusak reputasinya.
Mereka juga berpandangan kontroversi tersebut berpotensi berdampak terhadap akademisi kulit hitam yang menduduki posisi berpengaruh.
Karier Arday di Cambridge sebelumnya banyak mendapat perhatian karena perjalanan hidup yang kerap digambarkan inspiratif.
Arday mengaku hidup dengan disleksia, keterlambatan perkembangan, dan autisme yang membuatnya belum dapat berbicara hingga usia 11 tahun.
Ia juga menyatakan baru dapat membaca pada penghujung masa remajanya sebelum kemudian meniti perjalanan akademik hingga menjadi profesor.
Kontroversi plagiarisme mulai menguat setelah Nathan Cofnas, mantan peneliti filsafat Cambridge, secara terbuka mempertanyakan kualifikasi Arday pada Juli 2026.
The Times of London kemudian menerbitkan analisis terhadap disertasi doktoral Arday tahun 2015 pada 24 Juli 2026.
Analisis tersebut menyebut terdapat sejumlah bagian dalam disertasi yang identik atau hampir identik dengan karya peneliti lain.
Sorotan media kemudian meluas dari persoalan akademik menuju sejumlah klaim pencapaian Arday di luar kampus.
Media Inggris mempertanyakan klaim Arday mengenai keberhasilannya mengumpulkan dana amal sebesar 5,5 juta pound sterling melalui berbagai tantangan olahraga.
Tantangan tersebut disebut termasuk berlari 30 maraton dalam 35 hari dan menempuh jarak 600 mil dalam enam hari.
Kontroversi yang berkembang kemudian mendorong puluhan akademisi Cambridge menandatangani surat yang meminta penyelidikan independen terhadap proses pengangkatan Arday sebagai profesor.
Universitas Cambridge pada awalnya membela Arday dengan menyatakan tuduhan plagiarisme sebelumnya telah diselidiki Liverpool John Moores University.
Liverpool John Moores University merupakan perguruan tinggi yang memberikan gelar doktor kepada Arday.
Cambridge kemudian mengubah sikap dan membuka penyelidikan baru setelah muncul informasi tambahan mengenai kualifikasi serta sejumlah jabatan kehormatan Arday.
Prentice juga menyatakan Universitas Cambridge akan melakukan peninjauan terhadap proses perekrutan staf akademiknya.
Namun, ia mengingatkan kasus Arday tidak boleh digunakan untuk mendiskreditkan kontribusi akademisi kulit berwarna di universitas tersebut.
“Kasus khusus ini merupakan penyimpangan dan tidak boleh digunakan untuk meragukan pekerjaan mereka atau legitimasi peran mereka di Cambridge,” kata Prentice.
Tekanan terhadap Arday mencapai titik baru ketika ia mengumumkan pengunduran dirinya pada Rabu malam sebelum ditemukan meninggal dunia pada Jumat (14/8/2026).
Keputusan tersebut disampaikan setelah berminggu-minggu tuduhan plagiarisme dan pertanyaan mengenai sejumlah pencapaiannya terus menjadi perhatian publik.
Arday dalam pernyataannya menggambarkan situasi yang dihadapinya telah melampaui kritik yang lazim terjadi dalam lingkungan akademik.
“Meskipun kritik merupakan bagian tak terelakkan dari kehidupan akademis, apa yang saya alami telah jauh melampaui perbedaan pendapat ilmiah,” ujar Arday.
Ia kembali menggambarkan besarnya tekanan yang dirasakan dirinya maupun orang-orang terdekat selama kontroversi berlangsung.
“Tuduhan, spekulasi, dan komentar publik yang terus-menerus telah memberikan dampak yang sangat berat bagi diri saya maupun orang-orang yang saya cintai,” ujar Arday.
Kepergian Arday kini meninggalkan duka sekaligus rangkaian persoalan yang sebelumnya masih berada dalam proses pemeriksaan dan perdebatan di lingkungan akademik Inggris.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]