WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ketegangan energi global kian memuncak setelah Rusia menegaskan akan menghentikan pasokan minyak ke negara-negara yang mendukung pembatasan harga, memicu kekhawatiran gangguan besar pada rantai pasok dunia.
“Rusia tidak akan memasok minyak ke negara-negara yang mendukung skema provokatif ini,” ujar Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Andrey Rudenko dalam wawancara pada Selasa (31/3/2026).
Baca Juga:
Rusia Klaim Kemenangan Baru, Kuasai Penuh Luhansk Ukraina Timur
Pernyataan tersebut menjadi respons keras Moskow terhadap kebijakan pembatasan harga minyak yang dinilai sebagai langkah anti-pasar dan berpotensi merusak stabilitas distribusi energi global.
Rudenko juga menyinggung sejumlah negara yang tetap mendukung kebijakan tersebut, termasuk Jepang yang dinilai mengikuti skema pembatasan harga minyak Rusia.
Kebijakan pembatasan harga minyak Rusia sendiri telah diberlakukan oleh kelompok G7 sejak Desember 2022 dengan tujuan menekan pendapatan energi Rusia tanpa mengganggu pasokan global.
Baca Juga:
Rusia Hapus Domain YouTube dan WhatsApp, Akses Internet Kian Diperketat
Skema tersebut dilakukan dengan membatasi layanan pengiriman bagi minyak Rusia yang dijual di atas harga tertentu.
Namun situasi global semakin kompleks setelah konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran sejak Jumat (28/2/2026) memicu lonjakan harga energi.
Kondisi diperparah dengan langkah Iran yang memperketat hingga menutup akses Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui lebih dari 20 persen pasokan minyak dunia setiap hari.
Kepala Ekonom JP Morgan Bruce Kasman memperingatkan bahwa jika Selat Hormuz tetap tertutup, harga minyak berpotensi melonjak hingga menembus US$ 150 per barel atau setara sekitar Rp 2,55 juta dan bahkan bisa lebih tinggi.
Di tengah tekanan tersebut, Pemerintah Amerika Serikat melalui Departemen Keuangan sempat memberikan pengecualian sementara terhadap transaksi minyak Rusia hingga 12 April sebagai langkah menjaga stabilitas harga energi.
Kebijakan itu disebut sebagai penyesuaian sanksi untuk meredam lonjakan harga di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menegaskan bahwa langkah tersebut bertujuan menjaga stabilitas pasar energi dunia yang tengah bergejolak.
Di sisi lain, Rusia mulai mengalihkan strategi ekspor energinya dengan memprioritaskan pasokan gas alam cair atau LNG ke kawasan Asia.
Moskow juga menegaskan bahwa negara-negara yang dianggap tidak bersahabat akan berada di urutan terakhir dalam distribusi LNG mereka.
Langkah ini sejalan dengan rencana Uni Eropa yang menargetkan penghentian total impor LNG dari Rusia pada tahun 2027.
Sebagai respons, Rusia menyatakan akan mempercepat pengalihan ekspor ke pasar alternatif yang dinilai lebih prospektif.
Negara-negara seperti China, India, dan Vietnam kini menjadi fokus utama ekspor energi Rusia seiring meningkatnya permintaan di kawasan Asia.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]