WAHANANEWS.CO, Jakarta - Sebuah kisah “ada-ada saja” datang dari dunia penerbangan setelah sebuah pesawat tua Air India mendadak muncul kembali ke permukaan setelah lebih dari satu dekade seperti lenyap ditelan waktu.
Pesawat Boeing 737-200 milik maskapai pelat merah India itu ditemukan terparkir diam di area terpencil Bandara Internasional Netaji Subhas Chandra Bose, Kolkata, tanpa ada yang benar-benar merasa bertanggung jawab atas keberadaannya selama 13 tahun.
Baca Juga:
Kontak Terakhir Pukul 13.17 WITA, Pesawat ATR 400 dalam Pencarian
Akibat kelalaian panjang tersebut, Air India harus menelan pil pahit berupa tagihan biaya parkir yang menumpuk hingga sekitar 10 juta rupee atau setara Rp 1,8 miliar.
Pesawat dengan nomor registrasi VT-EHH itu sejatinya diparkir di bandara Kolkata sejak 2012 setelah resmi dipensiunkan dari layanan operasional dan tidak lagi digunakan untuk penerbangan komersial.
Masalahnya, sejak saat itu, pesawat tersebut justru “menghilang” dari pembukuan internal Air India dan tidak tercatat sebagai aset aktif maupun nonaktif perusahaan.
Baca Juga:
Dari Yogyakarta Menuju Makassar, Pesawat ATR 42-500 Dilaporkan Hilang Kontak
Di sisi lain, otoritas bandara tetap menjalankan prosedur dengan rutin mengirimkan tagihan biaya parkir, meskipun surat-surat tersebut tak pernah ditanggapi serius oleh pihak maskapai.
Air India sempat menolak membayar biaya tersebut dengan alasan tidak memiliki catatan bahwa pesawat tua itu masih menjadi milik mereka.
Situasi mulai berubah ketika pihak bandara mengirimkan permintaan resmi agar pesawat yang terbengkalai itu segera dipindahkan dari area parkir terpencil.
Permintaan tersebut memicu penelusuran internal yang akhirnya membuka fakta mengejutkan bahwa pesawat tersebut memang masih terdaftar sebagai aset Air India.
“Meski pelepasan pesawat tua bukanlah hal baru, kasus yang satu ini berbeda,” kata Kepala Eksekutif Air India Campbell Wilson dalam pesan internal perusahaan.
“Karena ini adalah pesawat yang bahkan baru kami ketahui sebagai milik kami dalam waktu dekat ini,” lanjut Wilson dalam pernyataan yang dikutip luas media-media India.
Wilson menjelaskan bahwa pesawat tersebut luput dari pencatatan akibat proses restrukturisasi internal yang berlangsung panjang dan kompleks.
Pesawat itu awalnya dimiliki Indian Airlines sebelum merger dengan Air India pada 2007, kemudian sempat disewakan kepada India Post untuk operasional kargo.
Setelah masa sewa berakhir, pesawat dipensiunkan dan diparkir tanpa tindak lanjut yang jelas hingga perlahan menghilang dari ingatan institusi.
“Seiring waktu, pesawat itu hilang dari ingatan dan baru terungkap ketika rekan-rekan kami di Bandara Kolkata memberi tahu keberadaannya di area parkir yang sangat terpencil,” ujar Wilson.
Air India memastikan pesawat tersebut memang masih tercatat sebagai aset perusahaan meskipun tidak pernah muncul dalam dokumen penting saat proses privatisasi dan pengalihan kepemilikan kepada Tata Group pada 2022.
Menurut laporan media setempat, aset-aset yang tidak tercantum dalam daftar inventaris saat pengambilalihan memang sangat rentan terabaikan, terlebih jika sudah tidak beroperasi selama bertahun-tahun.
Setelah proses verifikasi rampung, Air India akhirnya menyetujui untuk melunasi seluruh biaya parkir yang nilainya mencapai sekitar Rp 1,8 miliar.
Pesawat itu kemudian resmi dipindahkan dari area parkir Bandara Kolkata pada Jumat (14/11/2025) dan diangkut melalui jalur darat menuju Bengaluru.
Peristiwa ini sontak menyedot perhatian publik dan analis industri penerbangan karena dinilai sangat tidak lazim.
“Mengingat ketatnya pengawasan regulasi, sulit membayangkan sebuah maskapai benar-benar kehilangan jejak sebuah pesawat,” ujar John Strickland, pendiri JLS Consulting.
Menurut Strickland, umumnya setiap komponen pesawat, mulai dari nomor seri hingga riwayat perawatan, dikelola secara sistematis oleh maskapai penerbangan.
Sebagai informasi, Boeing 737-200 merupakan generasi awal dari keluarga Boeing 737 yang diperkenalkan pada akhir 1960-an.
Jenis pesawat ini telah lama dipensiunkan dari layanan penumpang dan kini nyaris tidak memiliki nilai jual, meskipun beberapa komponennya seperti mesin Pratt & Whitney masih dapat dimanfaatkan.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]