WAHANANEWS.CO, Jakarta - Situasi perang antara Amerika Serikat dan Iran kian buntu saat memasuki pekan ketiga, menyeret Presiden AS Donald Trump ke dalam tekanan politik dan militer yang semakin sulit dikendalikan.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kini menghadapi kebuntuan serius dalam konflik Iran yang telah berlangsung selama tiga pekan, dipicu oleh kegagalannya menetapkan tujuan akhir yang jelas serta ketidakmampuan meyakinkan publik domestik mengenai urgensi perang tersebut.
Baca Juga:
Berdiri Sejak Abad ke-3, Ini Jejak Gereja Tertua di Dunia yang Masih Tersisa
Tekanan dari dalam negeri semakin menguat setelah seorang pejabat senior kontraterorisme AS mengundurkan diri pada Selasa (17/3/2026), sebagaimana dilaporkan Wall Street Journal.
Pejabat yang dimaksud adalah Joe Kent, Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional yang selama ini dikenal sebagai loyalis Trump.
"Iran tidak memberikan ancaman nyata bagi Amerika Serikat," ujar Kent.
Baca Juga:
Momen Tegang di Kongres FIFA, Palestina Tolak Jabat Tangan Delegasi Israel
Ia juga mengaku tidak bisa lagi mendukung perang yang sedang berlangsung tersebut secara moral.
"Saya tidak dapat mendukung perang ini dengan hati nurani yang bersih," katanya.
Meski Trump berulang kali mengklaim Iran telah dihancurkan melalui serangan gabungan AS dan Israel, hingga kini ia belum berani mendeklarasikan kemenangan secara penuh.