Langkah cepat Likud dinilai jadi cara Netanyahu untuk mengambil kendali atas jadwal politik. Selain juga mencegah oposisi mendikte momentum pemilu.
Pemimpin oposisi utama, Yair Lapid memastikan siap mengikuti pemilu. Dia telah membentuk aliansi politik baru dengan mantan perdana menteri Naftali Bennett bernama Beyahad (Bersama) untuk maju bersama menghadapi Netanyahu nanti.
Baca Juga:
Menhan Israel Ancam Pemimpin Iran, Sebut Nasib Khamenei Jadi Peringatan
"Kami siap bersama," tulis Lapid di platform X.
Kedua orang tersebut telah menjadi pengkritik keras penanganan perang Netanyahu sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Bahkan Lapid mengatakan gencatan senjata terbaru dengan Iran sebagai bencana politik.
Namun nampaknya pemilu baru tetap akan memenangkan Likud. Karena dari jajak pendapat politik yang dirilis lembaga penyiaran publik Israel, kan, menunjukkan partai itu masih jadi preferensi pemilih dan unggul tipis dari Beyahad.
Baca Juga:
Presiden Iran Kecam Lembaga Internasional Gagal Hentikan Tindakan Israel di Kawasan Timur Tengah
Likud diproyeksikan akan mendapatkan 26 kursi dari 120 kursi di parlemen. Jumlah itu menurun dari 32 kursi yang dimiliki saat ini.
Beyahad kemungkinan mendapatkan 25 kursi. Koalisi itu unggul dari partai Yashar (straight), yakni partai tengah-kanan yang dipimpin mantan kepala militer Israel Gadi Eisenkot.
Karir politik Netanyahu yang berusia 76 tahun bisa dikatakan jadi salah satu yang paling bertahan dalam sejarah Israel. Sejak 1996 sepanjang karir politiknya, dia telah menjadi perdana menteri lebih dari 18 tahun atau yang terlama di negara tersebut.