WAHANANEWS.CO, Jakarta - Misteri penerbangan Malaysia Airlines MH370 kembali dibuka ketika operasi pencarian terbaru dimulai di Samudera Hindia, lebih dari satu dekade setelah pesawat itu lenyap tanpa jejak dengan membawa 239 penumpang dan awak.
Pesawat Boeing 777 milik Malaysia Airlines tersebut hilang dari radar tak lama setelah lepas landas dari Bandara Internasional Kuala Lumpur menuju Beijing pada Sabtu (8/3/2014).
Baca Juga:
Lebih 50 Tahun Orbit Pesawat Antariksa Soviet Jatuh di RI, Disebut Objek Berbahaya
Berdasarkan analisis data satelit, pesawat diyakini menyimpang dari jalur penerbangan semula dan bergerak ke arah selatan sebelum akhirnya jatuh di wilayah terpencil Samudera Hindia bagian selatan.
Upaya pencarian multinasional yang dipimpin Australia sebelumnya telah dilakukan secara besar-besaran, namun lokasi bangkai pesawat tak pernah berhasil ditemukan.
Meski demikian, sejumlah puing yang diyakini berasal dari MH370 sempat terdampar di pesisir Afrika Timur dan beberapa pulau di kawasan Samudera Hindia.
Baca Juga:
Penumpang Ancam Ledakkan Pesawat, Malaysia Airlines Putar Balik ke Sidney
Pada awal Desember 2025, Kementerian Perhubungan Malaysia mengumumkan bahwa Ocean Infinity, perusahaan robotika kelautan asal Amerika Serikat, akan kembali melanjutkan pencarian MH370.
Operasi pencarian tersebut dijadwalkan berlangsung selama 55 hari dengan menggunakan teknologi bawah laut berpresisi tinggi.
Pemerintah Malaysia menyatakan pada Rabu (1/1/2026) bahwa kapal pencari Armada 86 05 milik Ocean Infinity telah tiba di area pencarian yang telah ditentukan.
Kapal tersebut membawa dua kendaraan bawah laut otonom atau autonomous underwater vehicle (AUV) yang dirancang untuk menyisir dasar laut secara detail.
Sebelum memasuki zona pencarian, seluruh persiapan operasi dilakukan dari Pelabuhan Fremantle di Australia Barat.
Namun hingga kini, lokasi pasti area pencarian masih dirahasiakan oleh pihak terkait dengan alasan strategis.
Ocean Infinity menegaskan bahwa misi ini dijalankan dengan skema kontrak no find, no fee, yang berarti perusahaan hanya akan menerima pembayaran jika berhasil menemukan puing-puing pesawat.
Nilai kontrak tersebut mencapai 70 juta dolar Amerika Serikat atau setara sekitar Rp 1,1 triliun apabila bangkai MH370 berhasil ditemukan.
Sebelumnya, Ocean Infinity juga sempat melakukan pencarian independen pada 2018, namun operasi tersebut tidak membuahkan hasil.
Meski gagal saat itu, CEO Ocean Infinity Oliver Plunkett menyatakan pada 2025 bahwa perusahaannya bekerja sama dengan sejumlah pakar untuk mempersempit area pencarian ke titik yang dinilai paling mungkin menjadi lokasi jatuhnya pesawat.
Pada awal 2025, Ocean Infinity sempat mengerahkan armada untuk menjelajahi area baru seluas 15.000 kilometer persegi di Samudera Hindia.
Operasi tersebut kemudian dihentikan sementara pada April 2025 akibat kondisi cuaca ekstrem yang tidak memungkinkan.
Kini pencarian kembali dilanjutkan, dan Ocean Infinity mengonfirmasi keterlibatan mereka dalam misi ini meski menolak mengungkap detail lebih lanjut karena alasan sensitivitas dan urgensi pencarian.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini].