WAHANANEWS.CO, Jakarta - Dunia internasional dikejutkan oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengklaim telah melancarkan serangan berskala besar ke Venezuela hingga berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro.
Trump menyatakan operasi tersebut dilakukan pada Sabtu (3/1/2025) dengan melibatkan koordinasi aparat penegak hukum Amerika Serikat.
Baca Juga:
Indonesia Tegaskan Produk Nonhalal Tak Wajib Label dan Sertifikat Halal
“Amerika Serikat telah berhasil melaksanakan serangan berskala besar terhadap Venezuela dan pemimpinnya, Presiden Nicolas Maduro, yang bersama istrinya telah ditangkap dan diterbangkan keluar dari negara tersebut,” kata Trump.
Ia menambahkan bahwa penangkapan Maduro turut melibatkan istrinya, Cilia Flores, yang kemudian dipindahkan keluar wilayah Venezuela.
“Operasi ini dilakukan bekerja sama dengan aparat penegak hukum AS,” ujar Trump.
Baca Juga:
Prabowo Tegaskan Stabilitas, Kepastian Hukum, dan Reformasi SDM pada Acara Iftar di U.S. Chamber of Commerce
Pernyataan tersebut muncul di tengah kondisi ekonomi Venezuela yang telah lama berada dalam tekanan berat.
Venezuela sebelumnya telah dinyatakan berada dalam kondisi darurat ekonomi oleh Presiden Nicolas Maduro pada April 2025.
Data Dana Moneter Internasional atau IMF menunjukkan pertumbuhan ekonomi Venezuela pada 2025 hanya diproyeksikan sebesar 0,5 persen.
Produk domestik bruto Venezuela pada 2025 tercatat sebesar 82,77 miliar dolar AS, mencerminkan penyusutan ekonomi yang signifikan dibandingkan periode sebelum krisis berkepanjangan.
Produk domestik bruto per kapita Venezuela pada 2025 berada di kisaran 3.100 dolar AS yang menggambarkan lemahnya daya beli masyarakat.
Jika dihitung berdasarkan paritas daya beli, PDB per kapita Venezuela meningkat menjadi 8.790 dolar AS, menunjukkan adanya kesenjangan besar antara nilai tukar resmi dan daya beli riil.
Total PDB Venezuela berdasarkan paritas daya beli tercatat sebesar 234,34 miliar dolar AS atau hanya sekitar 0,11 persen dari total ekonomi global.
Kontribusi tersebut menandakan menurunnya posisi Venezuela dalam perekonomian dunia.
Tekanan ekonomi semakin berat akibat inflasi yang masih berada di level ekstrem.
Rata-rata inflasi konsumen Venezuela pada 2025 tercatat mencapai 269,9 persen.
Inflasi pada akhir periode bahkan diperkirakan melonjak hingga 548,6 persen, mencerminkan tekanan harga yang sangat tinggi bagi rumah tangga.
Populasi Venezuela pada 2026 diperkirakan berjumlah 26,89 juta jiwa seiring dampak migrasi besar-besaran dalam beberapa tahun terakhir.
Tingkat pengangguran tercatat mencapai 35,6 persen yang menunjukkan lemahnya penciptaan lapangan kerja formal.
Di sisi eksternal, neraca transaksi berjalan Venezuela pada 2025 mencatat surplus sebesar 3,52 miliar dolar AS atau sekitar 4,2 persen dari PDB.
Surplus tersebut dinilai lebih banyak ditopang oleh sektor komoditas dibandingkan pertumbuhan sektor produktif.
Dari sisi fiskal, pemerintah Venezuela masih mencatat defisit dengan posisi net lending atau borrowing sebesar minus 3,6 persen terhadap PDB pada 2024.
Pada saat yang sama, rasio utang pemerintah umum Venezuela mencapai 164,3 persen dari PDB.
Angka tersebut menempatkan Venezuela dalam kategori negara dengan beban utang yang sangat tinggi.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]