WAHANANEWS.CO, Jakarta - Pemerintah Sri Lanka terus mengintensifkan koordinasi lintas sektor untuk menangani dampak kerusakan infrastruktur setelah bencana Siklon Ditwah yang melanda sejumlah wilayah negara tersebut.
Salah satu fokus utama penanganan adalah perbaikan pagar pembatas gajah yang mengalami kerusakan cukup parah akibat terjangan badai.
Baca Juga:
Masuki Musim Pancaroba, Dinkes Tangerang dan Tangsel Imbau Warga Tak Panik Hadapi Super Flu
Dikutip dari Xinhua, Menteri Lingkungan Hidup Sri Lanka, Dammika Patabendi, menginstruksikan agar proses perbaikan pagar gajah yang rusak dapat diselesaikan dalam waktu maksimal satu minggu.
Arahan tersebut disampaikan dalam rapat evaluasi perkembangan restorasi infrastruktur pascabencana yang digelar pada Sabtu (10/1/2026).
Kementerian Lingkungan Hidup Sri Lanka mengungkapkan bahwa kerusakan pagar pembatas banyak terjadi di wilayah yang selama ini dikenal sebagai titik rawan Konflik Manusia dan Gajah atau Human-Elephant Conflict (HEC).
Baca Juga:
Komdigi Putus Sementara Akses Grok, Lindungi Publik dari Konten Pornografi AI
Kondisi ini dinilai berpotensi meningkatkan risiko keselamatan warga apabila tidak segera ditangani.
Dalam pernyataan resmi yang disampaikan pada Minggu (11/1/2026), kementerian menegaskan pentingnya langkah cepat dan terukur untuk mencegah meningkatnya gesekan antara masyarakat dan satwa liar.
Rusaknya pembatas fisik dikhawatirkan dapat memperluas area jelajah gajah hingga mendekati permukiman warga.
Konflik antara manusia dan gajah sendiri masih menjadi persoalan serius di sejumlah wilayah Sri Lanka.
Berdasarkan data resmi pemerintah, sepanjang tahun 2025 tercatat sebanyak 438 ekor gajah mati, sementara konflik tersebut juga menyebabkan 158 korban jiwa dari pihak manusia.
Situasi tersebut semakin diperparah oleh dampak Siklon Ditwah yang melanda pada akhir tahun lalu dan menghancurkan banyak titik pagar pelindung gajah.
Melalui penetapan tenggat waktu perbaikan ini, pemerintah berharap stabilitas keamanan serta rasa aman masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan habitat gajah dapat segera pulih.
Siklon Ditwah diketahui melintasi wilayah Sri Lanka pada 28 November 2025 sebelum bergerak kembali ke arah Teluk Benggala.
Badai tersebut memicu salah satu bencana banjir terparah yang pernah terjadi di negara itu sejak awal tahun 2000-an.
Sejumlah distrik dilaporkan mengalami dampak paling signifikan, di antaranya Gampaha, Colombo, Puttalam, dan Mannar di wilayah barat, serta Trincomalee dan Batticaloa di kawasan timur.
Selain banjir, longsor mematikan di daerah perbukitan tengah turut menghancurkan wilayah Kandy, Badulla, dan Matale.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]