WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ketegangan di Timur Tengah memuncak setelah kapal-kapal dagang menerima peringatan keras dari Korps Garda Revolusi Iran yang melarang pelayaran di Selat Hormuz di tengah rentetan serangan balasan terhadap Amerika Serikat dan Israel.
Seorang pejabat dari misi kelautan Uni Eropa, Aspides, melaporkan bahwa sejumlah kapal menerima transmisi pesan dari Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) berisi larangan melintasi Selat Hormuz pada Sabtu (28/2/2026).
Baca Juga:
Kesepakatan Damai Berantakan, Iran Tutup Selat Hormuz Usai Israel Gempur Lebanon
"tidak ada kapal yang boleh melintasi Selat Hormuz".
Pesan tersebut diterima di tengah gelombang serangan balasan Iran atas agresi militer Amerika Serikat dan Israel yang memicu eskalasi konflik di kawasan.
Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai salah satu jalur perdagangan minyak paling vital di dunia yang menghubungkan negara-negara produsen utama di Teluk Persia seperti Arab Saudi, Iran, Irak dan Uni Emirat Arab dengan Teluk Oman serta Laut Arab.
Baca Juga:
AS Dinilai Mundur Besar, Garis Merah Washington ke Iran Disebut Runtuh
Militer Israel pada Sabtu (28/2/2026) menyatakan bahwa rudal balasan telah diluncurkan dari Iran menuju wilayahnya pada pagi hari.
"Sirene dibunyikan di beberapa wilayah di seluruh negeri menyusul identifikasi rudal yang diluncurkan dari Iran menuju Israel. Saat ini, IAF (Angkatan Udara Israel) sedang beroperasi untuk mencegat dan menyerang ancaman jika diperlukan untuk menghilangkan ancaman tersebut.”
Sirene peringatan terdengar di berbagai wilayah Israel setelah pengumuman tersebut, sementara dalam beberapa menit berikutnya komando garis depan mengirimkan arahan pencegahan langsung ke telepon seluler warga di area terdampak.