WAHANANEWS.CO, Jakarta - Di saat banyak negara memandang ikan mas sebagai bahan pangan bernilai tinggi, Australia justru sedang berpacu mengendalikan ledakan populasi spesies tersebut yang dianggap merusak ekosistem perairan dan menimbulkan kerugian ekonomi hingga jutaan dolar setiap tahun.
Fenomena itu mendorong sejumlah pihak mencari solusi yang tidak hanya efektif, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi, salah satunya dengan mengubah ikan mas menjadi komoditas konsumsi.
Baca Juga:
KPK Ungkap Dugaan Jatah Rp100 Juta per Pekan untuk Silmy Karim dari Pengurusan Izin Tinggal WNA
"Ini protein kelas satu dan rasanya fantastis," kata pengelola restoran Coorong Wild Seafood di Adelaide, Tracy Hill.
Dalam pandangannya, pemancing rekreasi dapat mengambil peran penting dalam membantu mengurangi populasi ikan mas yang terus berkembang di berbagai wilayah perairan Australia.
Menurut Hill, spesies bernama ilmiah Cyprinus carpio tersebut selama ini belum menjadi makanan yang umum dikonsumsi masyarakat Australia meskipun di sejumlah negara, termasuk Indonesia, ikan mas merupakan salah satu sumber protein yang populer.
Baca Juga:
Bukan Soal Nilai atau IQ, Ini 7 Ciri Orang Cerdas yang Jarang Disadari
Keberadaan ikan mas sendiri telah lama menjadi perhatian otoritas lingkungan karena dikategorikan sebagai salah satu spesies invasif paling merusak di Australia.
"Mereka dikenal sebagai hama karena kebiasaan makannya di dasar perairan yang merusak, mengaduk-aduk sedimen dan mengeruhkan air," ungkap juru bicara Department of Primary Industries and Regional Development New South Wales.
Aktivitas ikan tersebut dinilai dapat mengganggu keseimbangan ekosistem karena menyebabkan kualitas air menurun dan memengaruhi habitat spesies asli yang hidup di perairan setempat.
Hill bersama suaminya, Glen, diketahui mengolah sekitar 300 hingga 400 kilogram ikan mas setiap pekan untuk dijadikan produk konsumsi dan menjual filet tanpa tulang dengan harga sekitar USD 25 per kilogram.
Ia meyakini pendekatan pemanfaatan ikan mas sebagai bahan pangan dapat menjadi salah satu solusi nyata dalam mengurangi populasinya di alam.
Di negara bagian New South Wales, pemerintah memperbolehkan pemancing menangkap ikan mas menggunakan metode yang legal tanpa batasan jumlah tangkapan.
Bahkan, upaya penangkapan ikan mas secara aktif justru didorong karena dianggap membantu pengendalian spesies invasif tersebut.
Sementara itu, sejumlah negara bagian lain seperti Australia Selatan, Queensland, dan Victoria melarang pemancing melepaskan kembali ikan mas yang telah ditangkap ke perairan.
"Ketika pemancing rekreasi menangkapnya, mereka meninggalkannya menggelepar di tepi sungai," ujarnya.
Menurut Hill, aturan tersebut justru memunculkan persoalan baru karena banyak ikan hasil tangkapan yang akhirnya tidak dimanfaatkan.
"Tidak ada yang bisa mereka lakukan dengan ikan itu, jadi ikan tersebut hanya tergeletak dan membusuk atau mereka membawanya pulang lalu menguburnya di pekarangan mereka," sebutnya.
Di tengah berbagai upaya pengendalian yang dilakukan, pemerintah federal Australia juga sedang mempertimbangkan penggunaan virus herpes khusus yang diklaim mampu memangkas populasi ikan mas hingga sekitar 60 persen.
Rencana tersebut memicu perdebatan karena dinilai berpotensi menimbulkan dampak lingkungan yang sulit diprediksi.
"Kita benar-benar bodoh jika berpikir bahwa kita bisa begitu saja membunuh hewan-hewan ini dengan virus yang akan membusukkan mereka dari dalam ke luar," sebutnya.
Hill menilai pendekatan pemanfaatan ikan mas sebagai sumber pangan jauh lebih masuk akal dibandingkan menggunakan metode biologis yang berisiko menimbulkan persoalan baru bagi lingkungan perairan Australia.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]