WAHANANEWS.CO, Jakarta - Protes berskala nasional di Iran terus meluas seiring memburuknya kondisi perekonomian dan meningkatnya tekanan terhadap pemerintah.
Untuk meredam gelombang demonstrasi, otoritas setempat memutus akses internet serta jaringan telepon di sejumlah wilayah, langkah yang dinilai semakin membatasi arus informasi dari dalam negeri.
Baca Juga:
Di Tengah Gelombang Protes, Iran Gantung Pria yang Dituduh Agen Mossad
Aksi unjuk rasa ini kian menekan pemerintahan teokratis Iran yang masih menghadapi dampak konflik regional serta tekanan internasional, terutama terkait isu program nuklir.
Situasi tersebut memperburuk ketidakpuasan publik yang sudah lama terpendam akibat krisis ekonomi berkepanjangan.
Data Human Rights Activists News Agency (HRANA) mencatat, lebih dari 500 aksi protes telah berlangsung di seluruh 31 provinsi di Iran.
Baca Juga:
Ketegangan di Timur Tengah Trump Beri Peringatan Keras, Iran Siaga Tempur Level Tertinggi
Dalam rangkaian demonstrasi tersebut, sedikitnya 65 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara lebih dari 2.300 lainnya ditangkap oleh aparat keamanan.
Di sisi lain, media pemerintah Iran hanya menyampaikan informasi terbatas mengenai situasi di lapangan.
Pembatasan ketat terhadap jurnalis, ditambah dengan pemutusan internet, membuat proses peliputan dan verifikasi informasi menjadi semakin sulit.
Meski demikian, gelombang protes tidak surut. Aksi demonstrasi tetap berlanjut bahkan setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menyampaikan peringatan keras kepada para pengunjuk rasa.
Runtuhnya nilai tukar mata uang rial disebut menjadi pemicu utama krisis ekonomi yang kian meluas di negara tersebut, sebagaimana dilansir AP News, Sabtu (10/1/2026).
Kondisi ekonomi diperparah oleh lonjakan harga kebutuhan pokok, termasuk daging dan beras, serta tingkat inflasi tahunan yang mencapai sekitar 40 persen.
Pada Desember lalu, pemerintah juga menaikkan harga bensin bersubsidi, kebijakan yang dinilai semakin memberatkan kehidupan masyarakat.
Aksi protes awalnya dipicu oleh keluhan para pedagang di Teheran, namun dengan cepat menyebar ke berbagai daerah.
Seiring waktu, tuntutan ekonomi berkembang menjadi seruan yang lebih luas, termasuk kritik dan penolakan terhadap pemerintah.
Sebagian demonstran bahkan menyuarakan dukungan terhadap Putra Mahkota Iran yang berada di pengasingan, Reza Pahlavi.
Pada saat yang sama, negara-negara Barat meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan program nuklir Iran yang dituding semakin mendekati kemampuan pembuatan senjata nuklir.
Tekanan ekonomi semakin terasa sejak Perserikatan Bangsa-Bangsa kembali memberlakukan sanksi terhadap Iran pada September lalu terkait program nuklirnya.
Tekanan tersebut menyebabkan nilai mata uang rial terjun bebas hingga menembus lebih dari 1,4 juta per dolar AS.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]