WAHANANEWS.CO - Pernyataan keras Rusia kembali memanaskan tensi geopolitik global setelah menuding Amerika Serikat terang-terangan mengejar dominasi energi lewat intervensi militer di sejumlah negara kaya minyak.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak bisa lagi berkelit soal motif di balik intervensi ke Venezuela dan Iran, Sabtu (25/4/2026) -- menurutnya, kepentingan utama Washington adalah menguasai sumber daya minyak dan energi global.
Baca Juga:
Terkepung Kebun Sawit, Orang Utan Diselamatkan dari Konflik Warga
"Amerika Serikat secara resmi menyatakan bahwa tidak ada yang dapat mendikte mereka. Mereka hanya peduli pada kesejahteraan mereka sendiri," kata Lavrov.
Lavrov menilai kebijakan luar negeri AS kini berorientasi pada kepentingan sepihak, bahkan dengan cara ekstrem seperti kudeta, penculikan, hingga pembunuhan terhadap pemimpin negara yang memiliki sumber daya strategis.
"Venezuela, Iran, orang Amerika tidak menyembunyikan bahwa itu adalah minyak. Mereka memiliki doktrin dominasi di pasar energi dunia," kata Lavrov.
Baca Juga:
Dari Narkoba ke Pencucian Uang, Sindikat The Doctor Terdesak
Ia juga menyebut langkah-langkah tersebut menunjukkan semakin pudarnya hukum internasional, yang kini digantikan oleh prinsip kekuatan sebagai penentu utama dalam hubungan global.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya sempat menyinggung keinginan menguasai minyak Iran, termasuk kemungkinan mengambil alih Pulau Kharg yang merupakan pusat ekspor minyak negara tersebut.
"Sejujurnya, hal yang paling saya sukai adalah mengambil minyak Iran, tetapi ada beberapa orang bodoh di AS yang berkata, 'mengapa Anda melakukan itu?' Tapi mereka orang bodoh," kata Trump, Minggu (30/3/2026).
Trump juga menyampaikan rencana masuknya perusahaan minyak dan gas AS ke Venezuela untuk investasi besar sekaligus mengelola infrastruktur energi di negara tersebut.
"Perusahaan-perusahaan minyak dan gas Amerika Serikat kami, yang terbesar di manapun di dunia ini, akan masuk (ke Venezuela) untuk mengeluarkan investasi miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, infrastruktur minyak," ujarnya.
Pernyataan Lavrov ini mempertegas kritik Rusia bahwa kebijakan luar negeri AS semakin agresif dan berfokus pada dominasi energi global, terutama di wilayah dengan cadangan minyak besar seperti Venezuela dan Iran.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]