WAHANANEWS.CO, Jakarta - Puluhan orang tewas kehausan di tengah ganasnya gurun Sahara setelah truk yang mereka tumpangi mogok di wilayah terpencil Niger utara.
Sedikitnya 49 orang dilaporkan meninggal dunia dalam tragedi tersebut.
Baca Juga:
Tanda Psikopat pada Anak Bisa Muncul Sejak Balita, Ini Ciri yang Perlu Diwaspadai
Kepolisian setempat menyebut para korban terdampar selama berhari-hari setelah kendaraan yang mereka gunakan tidak bisa melanjutkan perjalanan.
Peristiwa itu terjadi di daerah terpencil yang berjarak lebih dari 80 kilometer sebelah barat Assamaka, Niger utara.
Pemerintah Provinsi Agadez menyatakan para korban merupakan bagian dari rombongan yang pulang dari Mali.
Baca Juga:
Viral Roti Rp 1.500 Jadi Rp 3.000 di Nota MBG, SPPG yang Diduga Terlibat Masih Dicari
Mereka disebut hendak kembali ke Niger untuk merayakan Idul Adha bersama keluarga masing-masing.
Namun, perjalanan panjang itu berubah menjadi petaka ketika truk yang mereka tumpangi mengalami kerusakan di tengah kawasan gurun yang jauh dari titik perbekalan.
Kondisi alam yang ekstrem membuat para penumpang kesulitan bertahan hidup.
Suhu tinggi, ketiadaan air, dan lokasi yang sangat jauh dari permukiman membuat peluang keselamatan mereka semakin kecil.
"Sebanyak 49 orang meninggal karena kehausan di daerah terpencil lebih dari 80 km sebelah barat Assamaka," kata pemerintah, dikutip dari Aljazeera, Senin (8/6/2026).
Pemerintah menjelaskan bahwa para penumpang terjebak karena kendaraan tidak dapat diperbaiki.
"Disebabkan kekurangan air dan tidak mampu memperbaiki kendaraan meskipun pengemudi, asistennya, dan para penumpang telah berusaha, para pelancong tersebut terjebak di tengah kondisi alam yang tidak bersahabat di mana suhu ekstrem dan ketiadaan titik perbekalan membuat kelangsungan hidup sangat sulit," kata pemerintah.
Di tengah situasi mematikan itu, dua orang dilaporkan berhasil selamat.
Keduanya berjalan kaki lebih dari 50 kilometer untuk mencari sumber air.
Setelah mencapai sumber air, mereka melanjutkan perjalanan menuju Assamaka.
Dari sana, kedua penyintas berhasil memberi tahu pihak berwenang mengenai tragedi yang menimpa rombongan tersebut.
Laporan dari dua penyintas itu kemudian menjadi titik awal bagi pemerintah setempat untuk mengirim delegasi ke lokasi kejadian.
Delegasi tersebut dikirim oleh Gubernur Jenderal Wilayah Agadez, Ibra Boulama Issa.
Setelah tiba di lokasi, petugas mengetahui bahwa truk tersebut sebelumnya telah menempuh perjalanan selama beberapa hari dari Talhandek, Mali.
Kota Talhandek berada sekitar 300 kilometer dari perbatasan Niger.
Belum diketahui secara pasti penyebab truk tersebut mengalami kerusakan.
Pihak berwenang juga belum dapat memastikan berapa lama para penumpang menunggu bantuan sebelum akhirnya banyak yang meninggal dunia.
Pengemudi, asistennya, dan para penumpang disebut telah berupaya memperbaiki kendaraan.
Namun, seluruh upaya tersebut gagal membuat truk kembali berfungsi.
Kegagalan memperbaiki kendaraan membuat rombongan itu terjebak di salah satu wilayah paling berbahaya di jalur gurun Sahara.
Saat tim pemerintah tiba di lokasi, pemandangan yang ditemukan disebut sangat memilukan.
"Di tempat kejadian, temuan-temuan tersebut sangat mengerikan," kata pemerintah provinsi Agadez.
Pemerintah menyebut banyak jasad ditemukan di sekitar truk yang sudah tidak bergerak.
"Puluhan mayat ditemukan di bawah truk yang tidak bergerak dan di sekitarnya," kata pemerintah provinsi Agadez.
Tragedi ini kembali menyoroti bahaya perjalanan melintasi jalur gurun di kawasan Afrika Barat.
Wilayah gurun di Niger dikenal sebagai salah satu titik transit bagi pengungsi dan imigran dari negara-negara Afrika.
Banyak dari mereka menggunakan jalur tersebut untuk menuju Afrika Utara sebelum berusaha melanjutkan perjalanan ke Eropa.
Namun, jalur itu juga dikenal mematikan karena minimnya akses air, makanan, tempat berlindung, dan bantuan darurat.
Tidak sedikit pelintas gurun yang meninggal karena kehausan, kelaparan, atau tersesat di tengah hamparan pasir yang luas.
Kasus di Agadez memperlihatkan betapa cepatnya kerusakan kendaraan di kawasan terpencil dapat berubah menjadi bencana kemanusiaan.
Bagi rombongan yang hendak pulang untuk merayakan Idul Adha, perjalanan menuju keluarga justru berakhir dengan kematian massal di tengah gurun.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]