WAHANANEWS.CO, Jakarta - Jepang mencatatkan rekor "hari kokushobi" pertama secara resmi. Istilah ini merujuk "hari panas yang sangat kejam", yang diperkenalkan pada April lalu.
Badan Meteorologi Jepang (JMA) sengaja meluncurkan sebutan khusus itu untuk memperingatkan publik soal bahaya gelombang panas ekstrem di atas 40 derajat Celsius. Hal ini dulu langka di Jepang, namun sekarang sering terjadi.
Baca Juga:
Jepang Ciptakan "Kulkas Manusia", Cukup 5 Menit Tubuh Langsung Dingin
Mengutip laporan Reuters, Rabu (22/7/2026), Kota Gujo dan Tajimi di Prefektur Gifu serta Kota Toyota di Prefektur Aichi, semuanya secara bersamaan mencatatkan suhu udara menembus 40 derajat Celsius. Catatan suhu 40 derajat Celsius di Gujo dan 40,1 derajat Celsius di Toyota menjadi rekor tertinggi sepanjang masa yang pernah terekam di stasiun cuaca wilayah masing-masing.
"Dari total 914 stasiun pemantau cuaca di seluruh negeri, sebanyak 278 stasiun lain mencatatkan suhu melebihi 35 derajat Celsius atau kategori moshobi (hari sangat panas)," tulis laporan resmi JMA sebaran gelombang panas tersebut.
Eskalasi suhu yang kian membakar tersebut telah menelan korban jiwa secara tragis. Senin, seorang pria berusia 40-an tahun ditemukan tewas di jalanan Kota Sanjo, Prefektur Niigata.
Baca Juga:
Dinkes Jabar Peringatkan Ancaman Diare hingga Heatstroke Saat Kemarau Ekstrem
Soerang pria berusia 70-an tahun juga dilaporkan meninggal dunia di Kanagawa. Kedua korban jiwa tersebut diduga kuat tewas akibat tersengat gelombang panas ekstrem (heatstroke).
Ancaman iklim ini kian memprihatinkan setelah data Badan Penanggulangan Kebakaran dan Bencana Jepang mencatat angka kematian akibat heatstroke menembus lebih dari 2.000 jiwa untuk pertama kalinya pada 2024, di mana lebih dari 100.000 orang harus dilarikan ke rumah sakit sepanjang periode Mei hingga September tahun lalu.
Lonjakan suhu udara mulai merusak berbagai sendi kehidupan masyarakat Jepang, termasuk menurunkan hasil panen serta kualitas beras yang menjadi makanan pokok nasional. Merespons ancaman ketahanan pangan ini, para petani mulai beralih menanam varietas beras yang lebih tahan panas, bahkan sebagian di antaranya mulai beralih membudidayakan komoditas baru seperti alpukat yang sebelumnya tidak pernah ditanam secara massal di Jepang.