WAHANANEWS.CO, Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dikabarkan telah menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro beserta istrinya, Cilia Flores.
Informasi ini mencuat di tengah operasi militer berskala besar yang dilancarkan Amerika Serikat terhadap Venezuela dan langsung mengundang perhatian luas dari komunitas internasional.
Baca Juga:
Trump Nekat Ingin Beli Greenland, NATO Bereaksi Keras
Di sisi lain, pemerintah Venezuela menyatakan belum mengetahui keberadaan Maduro maupun Flores.
Wakil Presiden Venezuela, Delcy Rodríguez, menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada kejelasan terkait lokasi Presiden dan Ibu Negara Venezuela tersebut.
Bahkan, pemerintah disebut menuntut bukti konkret bahwa keduanya masih dalam keadaan hidup.
Baca Juga:
Kolombia Nyatakan Siap Berantas Narkoba, Setelah Trump Ancam Petro
Dalam pesan suara yang disiarkan melalui televisi pemerintah pada Sabtu (3/1/2026), Rodríguez menegaskan bahwa sampai sekarang belum ada informasi resmi yang dapat memastikan keberadaan Maduro dan Flores.
Situasi ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Caracas yang berkembang sangat cepat dalam beberapa hari terakhir.
Amerika Serikat dilaporkan melancarkan serangkaian serangan mematikan di kawasan Laut Karibia serta Samudra Pasifik bagian timur.
Tak hanya itu, AS juga disebut menyerang sejumlah titik sandar kapal yang dituduh digunakan oleh jaringan narkotika Venezuela.
Klaim penangkapan Maduro pun memunculkan kembali ingatan publik terhadap sejumlah operasi Amerika Serikat di masa lalu yang berujung pada penangkapan atau penggulingan pemimpin negara lain.
Sejarah mencatat, Amerika Serikat pernah terlibat langsung dalam penangkapan sejumlah kepala negara dengan berbagai alasan, mulai dari penegakan demokrasi hingga pemberantasan narkotika dan terorisme.
Pemimpin Negara yang Pernah Ditangkap Amerika Serikat
1. Manuel Noriega
Salah satu contoh paling sering disebut adalah penangkapan mantan pemimpin militer Panama, Manuel Noriega.
Pada 1989, Amerika Serikat menginvasi Panama dengan dalih melindungi warga negaranya serta memulihkan demokrasi.
Invasi tersebut juga diklaim bertujuan memberantas korupsi dan perdagangan narkoba. Sebelumnya, Noriega telah didakwa di Miami pada 1988 atas kasus penyelundupan narkotika.
Ia juga dituding memaksa Presiden Panama saat itu, Nicolás Ardito Barletta, untuk mengundurkan diri pada 1985, membatalkan pemilu 1989, serta menumbuhkan sentimen anti-Amerika Serikat di Panama.
Invasi Panama tercatat sebagai operasi militer terbesar yang dilakukan AS sejak Perang Vietnam.
Noriega akhirnya diterbangkan ke Amerika Serikat untuk diadili dan menjalani hukuman penjara hingga 2010.
2. Saddam Hussein
Kasus lainnya adalah penangkapan Presiden Irak Saddam Hussein oleh pasukan Amerika Serikat pada 13 Desember 2003, sekitar sembilan bulan setelah invasi dan pendudukan Irak dimulai.
Invasi tersebut didasarkan pada tuduhan bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal (WMD), meskipun klaim tersebut kemudian tidak pernah terbukti.
Saddam, yang sebelumnya pernah menjadi sekutu Washington pada era Perang Iran–Irak di dekade 1980-an, ditemukan bersembunyi di sebuah lubang bawah tanah dekat kampung halamannya di Tikrit.
Ia kemudian diadili oleh pengadilan Irak, dijatuhi hukuman mati, dan dieksekusi pada 30 Desember 2006.
3. Juan Orlando Hernández
Klaim penangkapan Maduro juga kerap dibandingkan dengan kasus mantan Presiden Honduras, Juan Orlando Hernández.
Hernández ditangkap di kediamannya di Tegucigalpa pada Februari 2022, hanya beberapa hari setelah masa jabatannya sebagai presiden berakhir.
Ia diekstradisi ke Amerika Serikat pada April 2022 atas dugaan keterlibatan dalam korupsi dan jaringan perdagangan narkoba. Pada Juni 2022, Hernández dijatuhi hukuman 45 tahun penjara.
Namun, pada 1 Desember 2025, Donald Trump memberikan pengampunan kepada Hernández. Kasus tersebut sempat memicu ketegangan hukum dan dinamika politik baru di Honduras.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]