WAHANANEWS.CO -
Kelompok Katolik tradisional di Amerika Serikat yang tergabung dalam Serikat Santo Pius X (SSPX) tetap melanjutkan penahbisan uskup tanpa persetujuan Paus Leo XIV, meski telah diperingatkan bahwa tindakan tersebut dapat memicu perpecahan dalam Gereja Katolik dan berujung ekskomunikasi.
Baca Juga:
Presiden Korsel Kunjungi Paus Leo XIV, Minta Datangi Korea Utara
Paus Leo XIV sebelumnya telah mengirimkan permohonan terakhir kepada SSPX agar membatalkan rencana penahbisan uskup tersebut. Namun, kelompok tradisionalis itu tetap bersikeras menjalankan agenda mereka tanpa persetujuan Takhta Suci.
"Saya memohon kepada Anda dan meminta dengan sepenuh hati: tolong batalkan!" tulis Paus Leo XIV dalam suratnya kepada SSPX.
"Aku berdoa untukmu, karena merobek jubah Kristus yang tanpa jahitan adalah dosa yang sangat berat. Semoga Tuhan menerangi hati nuranimu dan membangkitkan hatimu."
Baca Juga:
Trump Tuduh Paus Leo XIV Bahayakan Umat Katolik Gara-gara Iran
Peristiwa ini menjadi tantangan besar bagi Paus Leo XIV dalam upayanya memperkuat persatuan Gereja Katolik sejak menjabat sebagai pemimpin Gereja. Penahbisan uskup tanpa mandat Paus dinilai sebagai tindakan "schismatic" atau perpecahan, yang dapat berujung pada ekskomunikasi terhadap para uskup yang ditahbiskan.
Dalam ajaran Gereja Katolik, hubungan antara uskup dan Paus merupakan fondasi utama persatuan gereja sehingga setiap penahbisan uskup wajib memperoleh persetujuan Paus.
SSPX dikenal sebagai kelompok Katolik tradisional yang mempertahankan ajaran konservatif serta menolak berbagai reformasi Gereja Katolik yang lahir sejak Konsili Vatikan Kedua pada 1960-an.
Kelompok tersebut memiliki basis terbesar di Amerika Serikat dengan pusat organisasi di Missouri serta seminari di Dillwyn, Virginia.
Salah satu pastor yang dijadwalkan menerima penahbisan sebagai uskup pada Rabu (1/7/2026) adalah Pastor Michael Goldade yang saat ini menjabat sebagai kepala seminari SSPX.
Serikat Santo Pius X didirikan pada 1970 di Swiss oleh Uskup Agung Marcel Lefebvre asal Prancis. Namun, lima tahun kemudian organisasi itu resmi dibubarkan oleh Uskup Fribourg.
Konflik antara SSPX dan Vatikan telah berlangsung selama puluhan tahun. Pada 1988, kelompok tersebut juga pernah menahbiskan empat uskup tanpa persetujuan Paus yang berujung pada ekskomunikasi.
Akar perselisihan bermula dari penolakan Marcel Lefebvre beserta para pengikutnya terhadap reformasi Gereja Katolik yang diputuskan dalam Konsili Vatikan Kedua, termasuk mengenai kebebasan beragama, ekumenisme, serta pembaruan tata ibadah Katolik.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]