WAHANANEWS.CO, Jakarta - Bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatra memberikan dampak serius terhadap pelayanan kesehatan masyarakat.
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa puluhan fasilitas kesehatan mengalami gangguan operasional akibat bencana tersebut.
Baca Juga:
Kemenkes Soroti Lonjakan Korban Jiwa Kecelakaan di Jalur Non-Tol Saat Libur Nataru
Menurut Menkes, total terdapat 87 rumah sakit yang terdampak banjir dan longsor, dengan sembilan rumah sakit di antaranya sempat berhenti beroperasi sementara.
Selain rumah sakit, dampak bencana juga dirasakan oleh fasilitas layanan kesehatan tingkat pertama.
Sebanyak 867 puskesmas tercatat ikut terdampak, bahkan 180 puskesmas sempat tidak dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Baca Juga:
Mendorong Gugatan Class Action Bencana Ekologis Pulau Sumatra
Meski demikian, Menkes memastikan bahwa proses pemulihan fasilitas kesehatan terus dilakukan secara bertahap.
Dengan dukungan lintas sektor, sebagian besar fasilitas kesehatan kini mulai kembali berfungsi.
"Dalam waktu dua minggu, dengan bantuan semua pihak, seluruh rumah sakit terdampak sudah bisa beroperasi kembali," ujarnya, Minggu (4/1/2025).
Namun demikian, Menkes menyampaikan masih terdapat beberapa puskesmas yang belum sepenuhnya pulih.
Empat puskesmas di Provinsi Aceh hingga kini masih dalam tahap pemulihan akibat tingkat kerusakan yang cukup parah.
"Belum bisa beroperasi penuh karena kondisinya cukup berat dan lumpurnya masih tinggi," ucapnya.
Menkes mengakui, tantangan utama dalam penanganan fasilitas kesehatan terdampak bencana adalah akses menuju lokasi yang tidak mudah.
Sejumlah daerah hanya dapat dijangkau menggunakan perahu, kendaraan khusus, hingga sepeda motor trail, dengan waktu tempuh mencapai enam jam perjalanan.
Selain infrastruktur kesehatan, kondisi pengungsian juga menjadi perhatian pemerintah. Saat ini, sekitar 300 ribu warga masih mengungsi di lebih dari 1.000 titik pengungsian, termasuk di 76 desa terpencil yang memiliki keterbatasan akses transportasi dan logistik.
"Ini yang terus menjadi perhatian kami," ujarnya.
Untuk memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan, Kementerian Kesehatan telah mengerahkan dan melakukan rotasi terhadap sekitar 3.200 tenaga relawan kesehatan di wilayah terdampak.
Menkes juga memberikan apresiasi kepada Palang Merah Indonesia (PMI) atas perannya dalam penyaluran bantuan kemanusiaan ke daerah-daerah yang terdampak bencana di Sumatra.
Ia menekankan pentingnya penggunaan alat berat, khususnya alat berat berukuran kecil, guna mempercepat pemulihan empat puskesmas yang masih rusak parah.
"Kolaborasi antara pemerintah, PMI, dan berbagai mitra sangat penting untuk mempercepat pemulihan layanan Kesehatan," ujarnya. Menkes optimistis, apabila alat berat beserta operatornya dapat segera tersedia, puskesmas tersebut dapat kembali beroperasi dalam waktu satu bulan ke depan.
Di sisi lain, pemerintah pusat juga terus memperkuat layanan dasar bagi masyarakat terdampak bencana di Provinsi Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara.
Upaya tersebut dilakukan melalui pengiriman tenaga kesehatan sekaligus percepatan pemulihan sektor pendidikan.
"Kami mengirimkan dokter umum, dokter spesialis, serta calon dokter yang tengah menjalani program internship ke wilayah terdampak," kata Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno.
Ia menjelaskan, para relawan kesehatan difokuskan untuk memberikan layanan kesehatan dasar, melakukan tindakan bedah minor, serta memberikan pendampingan trauma healing bagi warga terdampak bencana.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]