WAHANANEWS.CO, Kota Depok – Memasuki usia ke-7 pada Agustus 2026, Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) terus memperluas perannya. Tidak lagi hanya menjalankan fungsi sebagai rumah sakit pendidikan, RSUI kini mendorong penguatan kapasitas pelayanan untuk menjadi salah satu pusat rujukan kesehatan utama nasional dan terkhusus di Jawa Barat.
Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-7 RSUI tahun ini mengusung tema pertumbuhan dari rumah sakit pendidikan menuju pusat rujukan kesehatan utama di Jawa Barat. Beragam kegiatan digelar untuk memeriahkan momentum tersebut, mulai dari agenda ilmiah, olahraga, seni, panggung hiburan hingga program layanan kesehatan bagi masyarakat. Seperti yang berlangsung hari ini, di area perparkiran RSUI, kawasan Kampus Universitas Indonesia, Jalan Prof. Dr. Bahder Djohan, Pondok Cina, Kecamatan Beji, Kota Depok, Jawa Barat 16424, Sabtu (15/8/2026).
Baca Juga:
Klinik Reproduksi RSUI Resmi Dibuka: Layani Pasangan dengan Program Kehamilan Terintegrasi
Salah satu agenda penting dalam rangkaian perayaan adalah Simposium dan Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) RSUI 2026 bertema “Updates in Clinical Science from Centers of Excellence: Interprofessional Perspectives in Healthcare”. Kegiatan tersebut diarahkan untuk memperkuat pertukaran pengetahuan dan kolaborasi antarprofesi kesehatan.
Rangkaian kegiatan juga mencakup turnamen futsal yang mempertemukan sejumlah instansi kesehatan dari Jabodetabek, Bandung dan Yogyakarta, kompetisi seni berupa lomba menyanyi, serta promo khusus Medical Check-Up (MCU) bagi masyarakat.
Berawal dari Rumah Sakit Pendidikan
Baca Juga:
RSUI Strategi Besar: Luncurkan Center of Excellence dengan Layanan Kesehatan Level Unggulan
Direktur Utama RSUI, dr. Kusuma Januarto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., mengungkapkan bahwa keberadaan RSUI tidak terlepas dari kebutuhan Universitas Indonesia untuk memiliki rumah sakit berbasis pendidikan.
Direktur Utama RSUI, dr. Kusuma Januarto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., saat memberikan keterangan pers kepada para jurnalis beberapa waktu yang lalu [WAHANANEWS.CO / Hendrik I Raseukiy]
RSUI mulai beroperasi sebagai rumah sakit pendidikan Universitas Indonesia pada 2019. Dalam tahap awal perkembangannya, dukungan dari Fakultas Kedokteran UI dan para rektor turut memperkuat proses pembangunan pelayanan.
Menurut Kusuma, tenaga akademik dan medis dari FKUI serta RSCM kemudian ikut berkontribusi dalam memberikan pelayanan sekaligus membangun kapasitas RSUI.
Kusuma menegaskan bahwa fungsi pendidikan dan pelayanan tidak dapat berjalan sendiri-sendiri.
“Pendidikan dan pelayanan, dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan,” ujar Kusuma.
Perkembangan pelayanan kemudian semakin terlihat setelah RSUI menjalin kerja sama dengan BPJS Kesehatan dan menjalani proses akreditasi. Langkah tersebut membuka akses lebih luas bagi masyarakat untuk mendapatkan pelayanan di RSUI.
“Kami bekerja sama dengan BPJS, kami melakukan akreditasi sehingga mulailah pasien datang ke sini,” katanya.
Pandemi Covid-19 Jadi Titik Penting
Perjalanan RSUI memasuki fase penting ketika pandemi Covid-19 melanda. Rumah sakit yang berada di lingkungan Universitas Indonesia itu kemudian menjadi salah satu fasilitas yang berperan dalam penanganan pasien Covid-19.
Kusuma menyebut kondisi lokasi RSUI yang relatif terisolasi dari kawasan luar kampus serta dukungan tenaga medis menjadi salah satu faktor yang membuat rumah sakit tersebut banyak dipilih masyarakat pada masa pandemi.
“Waktu di era Covid-19, RSUI menjadi rumah sakit rujukan nasional. Dengan tempat tidur waktu itu hampir 200 dan dokter-dokter yang masih muda, ini membuat RSUI dicari orang,” sebut Kusuma.
Pada periode tersebut, RSUI juga menjalankan pelayanan vaksinasi dan perawatan pasien. Dukungan pemerintah turut membantu proses pengembangan rumah sakit.
Kusuma mengatakan, dukungan datang dari berbagai pihak, termasuk Pemerintah Kota Depok dan pemerintah pusat.
“Alhamdulillah waktu itu pemerintah mendukung. Bahkan Bapak Presiden, Bapak Menteri Kesehatan itu semua datang ke sini untuk melihat langsung,” syukur Kusuma.
Kapasitas Naik Menjadi 361 Tempat Tidur
Pasca pandemi, RSUI terus memperkuat kapasitas pelayanan. Dari sebelumnya memiliki sekitar 200 tempat tidur, kini kapasitasnya telah mencapai 361 tempat tidur, dengan dukungan 43 ICU, 14 NICU dan sembilan kamar operasi.
Tidak berhenti di angka tersebut, manajemen RSUI juga menyiapkan ekspansi kapasitas menjadi 500 tempat tidur dalam pengembangan berikutnya. Penambahan tersebut akan disertai peningkatan jumlah kamar operasi dan unit ICU.
“Sekarang mencapai 361 bed, dengan 43 ICU, 14 NICU dan sembilan kamar operasi. Insyaallah dalam satu tahun ini kami kembangkan menjadi 500 tempat tidur, dengan penambahan kamar operasi menjadi 12 dan penambahan unit ICU,” kata Kusuma.
Pertumbuhan kapasitas tersebut juga diikuti peningkatan jumlah pasien. Saat ini RSUI disebut melayani sekitar 1.500 hingga 1.600 pasien setiap hari, baik peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) maupun pasien non-JKN.
Tetap Mempertahankan Fungsi Pendidikan
Di tengah ekspansi layanan, RSUI tetap mempertahankan identitasnya sebagai rumah sakit pendidikan. Kolaborasi dengan Fakultas Kedokteran UI terus dilakukan untuk mendukung pendidikan profesi dokter, spesialis dan subspesialis.
Kusuma menyebut RSUI saat ini memiliki sekitar 16 bidang spesialis serta sekitar 60 cabang subspesialis.
“Kami terus mendukung adanya rumah pendidikan dengan teman-teman dari Fakultas Kedokteran. Kami punya pendidikan umum, ada pendidikan spesialis, ada 16 spesialis di sini,” jelasnya.
Dengan keberadaan berbagai layanan tersebut, RSUI memperkuat posisi sebagai rumah sakit pendidikan sekaligus rumah sakit rujukan.
Kolaborasi JICA Perkuat Kapasitas Medis
Pengembangan RSUI juga didukung kolaborasi internasional, salah satunya melalui kerja sama dengan Japan International Cooperation Agency (JICA).
Berdasarkan bahan yang dihimpun, kerja sama tersebut mencakup penguatan kapasitas tenaga medis, telemedicine ICU melalui komunikasi dokter-ke-dokter dan perawat-ke-perawat bersama tenaga spesialis Jepang, serta dukungan teknologi kesehatan berupa Mobile Digital X-Ray berbasis kecerdasan buatan (AI).
Program D2D Telemedicine mulai dijalankan sejak akhir 2021 untuk meningkatkan kompetensi dan kepercayaan diri tenaga medis RSUI dalam menangani pasien kritis. Selain itu, kerja sama juga mencakup pelatihan profesional, edukasi, seminar, serta pengembangan teknologi penunjang diagnosis.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari strategi memperkuat kualitas sumber daya manusia sekaligus meningkatkan kemampuan RSUI dalam memberikan pelayanan kesehatan berbasis teknologi.
Bidik Pusat Rujukan Jawa Barat
Kusuma menyebut pengembangan RSUI diarahkan untuk memperkuat perannya sebagai pusat pendidikan sekaligus pelayanan rujukan.
Ia menyebut RSUI merupakan salah satu rumah sakit tipe A di Jawa Barat dan saat ini melayani pasien dalam jumlah besar setiap harinya.
“Rumah sakit ini sebagai tipe A di Kota Depok. Di Jawa Barat cuma tiga, Rumah Sakit UI, Rumah Sakit Hasan Sadikin, dan RS Sentosa di Bandung. Jadi kita ini salah satu rumah sakit tipe A, sebagai pusat pendidikan,” tuturnya.
Dengan kapasitas yang terus diperluas, layanan spesialis dan subspesialis yang semakin beragam, serta fungsi pendidikan yang tetap dipertahankan, RSUI memasuki usia ketujuh dengan agenda besar: memperkuat posisi sebagai pusat pelayanan dan rujukan kesehatan di Jawa Barat.
Momentum HUT ke-7 pun bukan sekadar perayaan seremonial. Bagi RSUI, usia tujuh tahun menjadi titik evaluasi sekaligus pijakan untuk memperluas kapasitas pelayanan, meningkatkan kualitas pendidikan kedokteran, memperkuat kolaborasi dan menjawab kebutuhan kesehatan masyarakat yang terus berkembang.
[Redaktur: Teunku Agam Isnain Asyura]