WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Piprim Basarah Yanuarso, mengingatkan adanya peningkatan ancaman kesehatan bagi anak-anak selama musim hujan.
Menurutnya, intensitas aktivitas sekolah yang tinggi, ditambah kondisi cuaca ekstrem, berpotensi memperbesar risiko penularan berbagai penyakit pada anak usia sekolah.
Baca Juga:
Anak Aktif dan Ceria? Bisa Jadi Pencernaannya Sehat, Ini Tandanya!
Piprim menjelaskan bahwa curah hujan yang tinggi serta tingkat kelembapan udara yang meningkat dapat menciptakan lingkungan yang mendukung penyebaran infeksi.
Situasi ini berisiko memicu berbagai gangguan kesehatan, seperti influenza, diare, demam berdarah dengue, hingga dampak lanjutan dari bencana hidrometeorologi yang kerap terjadi di musim hujan.
Ia menilai bahwa kegiatan belajar mengajar memang memiliki peran penting dalam mendukung perkembangan anak.
Baca Juga:
Kemenkes Kerahkan Tim Krisis dan Aktifkan HEOC untuk Tangani Bencana Hidrometeorologi
Namun demikian, aspek keselamatan dan kesehatan tidak boleh terabaikan. Oleh karena itu, Piprim menekankan pentingnya upaya pencegahan yang dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh pihak terkait.
“IDAI memahami bahwa proses belajar mengajar di sekolah sangat penting bagi perkembangan sosial, emosional, dan intelektual anak. Namun, kesehatan dan keselamatan anak harus menjadi prioritas utama,” ujar Piprim dalam keterangan persnya di Jakarta, Selasa (6/1/2026).
Sebagai langkah antisipasi, IDAI mengimbau para orang tua untuk memastikan kondisi kesehatan anak sebelum mengikuti kegiatan di sekolah.
Selain itu, kesadaran kolektif dinilai menjadi kunci dalam menekan risiko penularan penyakit di lingkungan pendidikan.
“Oleh karena itu, kami menyampaikan beberapa kiat komprehensif sebagai upaya pencegahan dan kewaspadaan kolektif,” kata Piprim.
Imbauan tersebut bertujuan untuk meminimalkan risiko kesehatan anak selama musim hujan.
Berikut sejumlah rekomendasi IDAI terkait kesiapan anak dalam menghadapi kondisi cuaca ekstrem.
Menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh anak:
- Orangtua melengkapi imunisasi dasar dan lanjutan sesuai usia anak.
- Keluarga menyediakan asupan gizi seimbang, termasuk protein hewani dan cairan yang cukup.
- Orangtua memastikan anak memperoleh waktu tidur sesuai dengan kebutuhan usianya.
- Anak diistirahatkan di rumah apabila menunjukkan gejala sakit.
Menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat:
- Anak membiasakan etiket batuk dengan menutup mulut menggunakan lengan bagian dalam.
- Anak mencuci tangan memakai sabun sebelum makan dan setelah beraktivitas.
- Anak menggunakan masker saat mengalami gejala infeksi saluran pernapasan.
- Anak tidak saling berbagi alat makan maupun perlengkapan pribadi.
Mencegah penyakit khas musim hujan:
- Keluarga menerapkan langkah 3M Plus, yakni menguras, menutup, dan mendaur ulang tempat penampungan air, serta menghindari gigitan nyamuk.
- Lingkungan rumah dan sekolah dijaga agar terbebas dari genangan air.
- Anak menggunakan alas kaki saat berada di area yang berisiko terkontaminasi.
- Anak mengonsumsi makanan dan minuman yang bersih serta matang.
Meningkatkan kesiapsiagaan terhadap bencana hidrometeorologi:
- Orangtua dan pihak sekolah memperkuat komunikasi terkait kondisi cuaca dan kesehatan anak.
- Anak dibekali pemahaman mengenai prosedur evakuasi dan titik kumpul di sekolah.
- Keluarga menyiapkan tas siaga bencana baik di rumah maupun di sekolah.
- Orangtua meningkatkan kewaspadaan terhadap perjalanan anak saat hujan lebat.
Sementara itu, Sekretaris Umum IDAI, Hikari Ambara Sjakti, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam melindungi kesehatan anak.
Menurutnya, upaya menjaga kesehatan anak tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan peran aktif keluarga, sekolah, serta dukungan pemerintah.
“Kami, para dokter anak, sangat mengharapkan kolaborasi semua pihak. Dengan upaya bersama, kita dapat menciptakan lingkungan yang sehat dan aman bagi anak-anak kita,” ujar Hikari.
Selain peran keluarga, IDAI juga mendorong pihak sekolah untuk menyediakan sarana sanitasi yang memadai serta melakukan pembersihan lingkungan belajar secara rutin.
Di sisi lain, pemerintah daerah diharapkan dapat memperkuat fasilitas layanan kesehatan serta sistem peringatan dini guna meminimalkan dampak risiko kesehatan anak selama musim hujan.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]