WAHANANEWS.CO, Jakarta - Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Octavianus melakukan pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Senin, 2 Januari 2026.
Pertemuan tersebut difokuskan pada pembahasan isu strategis sektor kesehatan nasional, terutama percepatan penanggulangan tuberkulosis (TBC) yang menjadi salah satu program prioritas pemerintah.
Baca Juga:
DPR Desak Perbaikan Pelayanan dan Pajak Alkes demi Tahan Arus Wisata Medis ke Luar Negeri
Dalam pertemuan itu, Wamenkes menyampaikan sejumlah masukan kepada Presiden terkait langkah-langkah konkret yang perlu dilakukan untuk meningkatkan efektivitas pemberantasan TBC di Indonesia.
“Kami membahas bagaimana agar pemberantasan TBC bisa berjalan lebih baik,” ujarnya.
Benjamin menjelaskan, Presiden Prabowo secara khusus meminta pandangan dan rekomendasi darinya mengingat latar belakang keilmuannya sebagai dokter spesialis penyakit paru.
Baca Juga:
Kemenkes Temukan Satu dari Empat Remaja Alami Anemia dalam Program CKG Sekolah
Presiden ingin upaya pengendalian TBC dilakukan secara lebih terarah, terukur, dan berdampak nyata bagi masyarakat.
Benny, sapaan akrab Wamenkes, menambahkan bahwa Presiden Prabowo menunjukkan perhatian serius terhadap tingginya angka kasus TBC di Indonesia.
Saat ini, Indonesia masih berada di posisi kedua dengan jumlah kasus TBC tertinggi di dunia, setelah India.
Atas kondisi tersebut, Presiden menegaskan bahwa penurunan angka TBC harus menjadi prioritas nasional dan dilakukan secara konsisten.
“Ini harus dilakukan secara signifikan dan berkelanjutan,” ujarnya.
Untuk mendukung kebijakan tersebut, Wamenkes menyampaikan bahwa dirinya telah melakukan kunjungan ke 12 provinsi di berbagai wilayah Indonesia.
Kunjungan itu bertujuan untuk menyosialisasikan program penanganan TBC sekaligus memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan setempat.
Menurut Benjamin, penanganan TBC tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus melalui pendekatan yang komprehensif dan terintegrasi.
Upaya ini dinilai penting guna memutus mata rantai penularan penyakit secara efektif di masyarakat.
“Sebenarnya penanganan TB itu sama seperti menangangi Covid-19,” katanya.
Penanganan harus difokuskan pada upaya mematikan bakteri penyebab TBC, yakni mycobacterium tuberculosis, hingga benar-benar tuntas.
“Selama kumannya masih ada, selama itu akan terus menulari kita,” katanya menegaskan.
Oleh karena itu, Presiden meminta agar pemberantasan TBC dilakukan secara serius dan dijadikan fokus utama dalam kebijakan kesehatan pemerintah.
Dalam kesempatan tersebut, Benny juga mengutip pernyataan Presiden Prabowo yang menyoroti paradoks tingginya kasus TBC di Indonesia.
“Mau jadi negara maju kok kasus TBC-nya tinggi sekali,” ucapnya.
Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin juga menegaskan bahwa eliminasi TBC tidak dapat dilakukan dengan pendekatan konvensional.
“Kita harus aktif mencari kasus, memastikan pengobatan tuntas, dan melibatkan masyarakat,” ujarnya.
Menkes menjelaskan, TBC merupakan penyakit menular dengan tingkat kematian yang sangat tinggi, bahkan melampaui Covid-19.
“Sejak ditemukan, TBC telah merenggut hingga satu miliar nyawa di dunia,” ucapnya menegaskan.
Di Indonesia sendiri, saat ini tercatat sekitar 125 ribu kematian akibat TBC setiap tahunnya.
“Artinya, setiap lima menit ada dua orang Indonesia meninggal karena TBC,” ucapnya.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]