WAHANANEWS.CO, Jakarta - Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkapkan hasil investigasi terkait insiden dugaan keracunan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat beberapa waktu lalu.
Sebagai informasi, mulai Rabu (15/4) hingga Jumat (17/4) setidaknya sebanyak 63 balita dan ibu menyusui mengalami gejala keracunan, diduga usai menyantap menu MBG yang dibagikan melalui posyandu di dua desa di Kecamatan Leles.
Baca Juga:
Tenggorokan Balita Ini Terbakar, Gegera Minum Sup Panas Pakai Sedotan
Laporan akhir investigasi kasus tersebut menemukan tidak adanya cemaran bakteri pada sebagian besar menu makanan yang disajikan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Leles 2, Sukasirna tetapi ditemukan cemaran zat kimia nitrit pada menu tumis pakcoy di atas batas normal The Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA).
"Jika merujuk batas maksimum JECFA untuk nitrit, yakni 0,07 mg/kg berat badan per hari. Tumis pakcoy tersebut mengandung 11,85 mg/kg, maka temuan di SPPG Leles 2 Cianjur mencapai 169 kali lipat di atas batas aman," ujar Ketua Tim Investigasi Independen BGN, Arie Karimah Muhammad dalam instagram resmi Sidak BGN, dikutip Selasa (12/5/2026).
Berdasarkan hasil tes dari Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Jawa Barat, menu tanggal 13, 14, 15, 17, dan 18 April 2026 terbukti negatif Salmonella sp, S. aureus, E.Coli, dan B.cereus.
Baca Juga:
Pemprov Sulbar Targetkan 108.322 Balita Hadir di 2.100 Posyandu
Arie menjelaskan secara alamiah, sebagian buah dan sayuran memang dapat mengandung nitrit dengan kadar yang dapat meningkat akibat aktivitas bakteri yang mengubah nitrat menjadi nitrit.
"Dugaan sumber cemaran lain dapat berasal dari penggunaan pupuk organik atau nitrogen berlebihan, air resapan tercemar kotoran manusia atau hewan, atau limbah pabrik kimia di sekitar lahan pertanian," ujar dia.
Nitrit sendiri dapat memicu kondisi methaemoglobinemia, yakni kondisi ketika kemampuan hemoglobin dalam darah membawa oksigen ke seluruh tubuh menurun.
"Akibatnya, tubuh bisa terasa lemas dan muncul sesak napas, karena sel-sel tubuh kekurangan oksigen," tuturnya.
[Redaktur: Alpredo Gultom]