WAHANANEWS.CO, Jakarta - Penolakan rujuk berujung maut, Rashad Fouad Tareq Jameel alias Fuad nekat menghabisi nyawa Dwhinta Anggary, mantan istri sirinya yang juga cucu seniman Betawi Mpok Nori.
Peristiwa ini bermula setelah pelaku menalak korban pada Februari 2026, namun kemudian ingin kembali rujuk meski keinginannya ditolak oleh korban.
Baca Juga:
Motif Pembunuhan Perempuan Ditemukan dalam Box Kontainer di Medan Terungkap
"Korban ingin pisah hubungannya dengan tersangka, namun tersangka tidak mau. Pembunuhan dilakukan sekitar Kamis malam dan diketahui pada Sabtu," ungkap Kapolres Metro Jakarta Timur Alfian Nurrizal, Senin (23/3/2026).
Konflik keduanya disebut telah memanas sejak awal Februari 2026 saat pelaku menjatuhkan talak kepada korban dalam hubungan pernikahan siri mereka.
"Jadi malam Nisfu Syaban itu, adik saya ditalak sama dia. Namanya kalau sudah nikah siri, ditalak kan sudah selesai," ujar Dian Puspitasari, kakak korban, Minggu (22/3/2026).
Baca Juga:
Hubungan Sesama Jenis Berujung Maut, Pria di Batam Habisi Mantan Kekasih
Meski telah berpisah, pelaku tetap berupaya kembali menjalin hubungan dengan korban dan menunjukkan penyesalan atas perbuatannya.
"Tapi suaminya masih pengen balik dan merasa bersalah. Sampai sempat mau bunuh diri tapi enggak berani. Cuma sayat-sayat tangan doang," ucap Dian.
Pihak keluarga sempat melibatkan polisi ketika pelaku menunjukkan perilaku yang mengkhawatirkan, namun saat itu pelaku melarikan diri.
Belakangan diketahui pelaku justru menyewa kontrakan yang lokasinya tidak jauh dari tempat tinggal korban.
"Dia ternyata ngontrak di depan gang sana. Masih dekat dari kontrakan adik saya," kata Dian.
Kedekatan lokasi tersebut diduga dimanfaatkan pelaku untuk memantau aktivitas korban dalam kesehariannya.
"Terakhir itu saya mau ke pasar hari Kamis, papasan sama saudara saya. Ternyata dia (pelaku) ada di belakang. Karena kita enggak sadar diikuti," ujarnya.
Menurut keterangan keluarga, pelaku kerap berada di sekitar lokasi aktivitas korban, termasuk saat korban pulang bekerja pada malam hari.
Upaya pelaku untuk mengajak rujuk terus dilakukan, namun tidak pernah mendapat respons sesuai harapan sehingga diduga memicu emosi pelaku.
"Nah, di situ dia cemburu," ucap Dian.
Kecemburuan pelaku disebut semakin meningkat sejak korban aktif bekerja dan memiliki banyak relasi, termasuk rekan kerja laki-laki.
Pelaku juga diduga memiliki kecenderungan membatasi ruang gerak korban selama hubungan mereka berlangsung.
Setelah kejadian pembunuhan, pelaku melarikan diri sebelum akhirnya berhasil ditangkap saat berada di dalam bus di Tol Tangerang-Merak menuju Pulau Sumatera.
Hingga kini pihak kepolisian masih belum mengungkap secara rinci kronologi lengkap pembunuhan tersebut.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]