WAHANANEWS.CO, Jakarta - Badan Geologi di bawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bergerak cepat merespons gempa bumi yang mengguncang wilayah Sulawesi Utara dan Maluku Utara dengan mengerahkan tiga tim tanggap darurat ke lokasi terdampak.
Langkah ini dilakukan sebagai upaya percepatan penanganan serta pengumpulan data teknis untuk mendukung proses mitigasi bencana secara menyeluruh.
Baca Juga:
Gunung Dempo Berubah Bentuk Membesar Dalam Sepekan, Ini Kata Badan Geologi
Tim pertama telah tiba di Manado pada Minggu pagi (5/4/2026) dan langsung bergerak menuju titik-titik terdampak gempa.
Di lapangan, tim tersebut menjalankan sejumlah tugas penting, mulai dari penyelidikan kondisi geologi, pemetaan wilayah pascabencana, pemantauan aktivitas lanjutan, hingga menyusun rekomendasi teknis yang akan disampaikan kepada pemerintah daerah dan masyarakat setempat guna meminimalkan risiko lanjutan.
"Sebagai wujud dan tanggung jawab Badan Geologi memberikan pelayanan teknis dalam mitigasi bencana geologi secara cepat dan tepat, Badan Geologi telah memberangkatkan satu dari Tim Tanggap Darurat (TD) ke lokasi bencana gempa bumi Sulawesi Utara kemarin. Tim selanjutnya akan diberangkatkan pada tanggal 6 April dan 8 April," ujar Kepala Pelaksana Tugas (Plt) Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria di Bandung, Minggu (5/4/2026).
Baca Juga:
Enam Gunung Api Berstatus Siaga dan Awas, Badan Geologi Peringatkan Bahaya Erupsi
Lana menambahkan bahwa tim yang diterjunkan terdiri dari tenaga ahli lintas bidang, seperti pakar struktur geologi, ahli kegempaan, serta praktisi mitigasi bencana.
Keberadaan para ahli ini diharapkan mampu memberikan analisis komprehensif terkait karakteristik gempa, sekaligus menilai dampaknya terhadap kondisi tanah dan ketahanan bangunan di wilayah terdampak.
Gempa berkekuatan magnitudo 7,3 yang terjadi pada 2 April 2026 di wilayah Sulawesi Utara diketahui berasal dari aktivitas zona penunjaman ganda.
Fenomena ini ditandai dengan mekanisme sesar naik yang memiliki arah relatif barat daya hingga timur laut, mencerminkan dinamika pergerakan lempeng dengan kemiringan ke arah tenggara.
"Mekanisme sesar naik tersebut telah menghasilkan deformasi lantai samudera dan memicu terjadinya tsunami yang terekam di beberapa stasiun pencatat pasang surut yang dimiliki oleh Badan Informasi Geospasial (BIG) setinggi 20-75 cm," ujar Lana.
Dari hasil laporan sementara di wilayah Maluku Utara dan Sulawesi Utara, kerusakan yang terjadi umumnya ditemukan di daerah dengan kondisi tanah lunak atau batuan yang belum terkonsolidasi dengan baik.
Kondisi geologi seperti ini dinilai rentan terhadap dampak lanjutan gempa, seperti munculnya retakan di permukaan tanah, likuefaksi, hingga potensi pergerakan tanah.
Sementara itu, aktivitas gempa susulan masih terus berlangsung. Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), tercatat sebanyak 921 gempa susulan telah terjadi sejak gempa utama pada 2 April 2026.
Tingginya frekuensi gempa susulan ini menunjukkan bahwa kondisi seismik di kawasan tersebut masih aktif dan diperkirakan membutuhkan waktu lebih dari satu pekan untuk kembali stabil.
Dengan kondisi tersebut, masyarakat yang berada di wilayah terdampak diimbau untuk tetap meningkatkan kewaspadaan.
Selain itu, warga juga diminta untuk mengikuti arahan dari petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta tidak mudah percaya pada informasi yang belum jelas kebenarannya, terutama yang berkaitan dengan potensi gempa susulan maupun ancaman tsunami.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]