WAHANANEWS.C, Jakarta – Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran mengapresiasi keberlanjutan Program Sekolah Negeri Terapung yang didukung PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) di SMPN 6 Anggana, Desa Sepatin, Kabupaten Kutai Kartanegara, karena dinilai menjadi contoh nyata pemerataan akses pendidikan bagi anak-anak pesisir dan wilayah 3T.
Ketua Umum Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran KRT Tohom Purba mengatakan, program pendidikan seperti Sekolah Negeri Terapung menunjukkan bahwa pembangunan sumber daya manusia tidak boleh berhenti di pusat kota, tetapi harus hadir sampai ke wilayah sungai, pesisir, dan daerah terpencil.
Baca Juga:
Geger 326 Kepsek Sulsel Ingin Mundur, Temuan Dana BOS Jadi Pemicu
“Program seperti ini sangat penting karena anak-anak pesisir juga memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan berkualitas, fasilitas belajar yang layak, dan kesempatan untuk bermimpi lebih tinggi,” ujar Tohom.
Menurut Tohom, dukungan PHM terhadap SMPN 6 Anggana melalui pembangunan gapura sekolah, taman belajar, penyediaan fasilitas pendidikan, penguatan kompetensi guru, hingga pendampingan beasiswa merupakan bentuk CSR yang memiliki dampak langsung bagi masa depan masyarakat.
“CSR yang baik adalah CSR yang membangun manusia, karena ketika pendidikan anak-anak diperkuat, maka yang tumbuh bukan hanya sekolahnya, tetapi juga harapan sebuah desa,” katanya.
Baca Juga:
Pemerintah Bangun 100 Sekolah Nasional Terintegrasi, Satu Di antaranya Berlokasi di IKN
Tohom menilai keberhasilan Program Sekolah Negeri Terapung meraih predikat Platinum dalam The 18th Annual Global CSR & ESG Summit & Awards 2026 di Bangkok, Thailand, menjadi bukti bahwa inisiatif lokal dari wilayah pesisir Indonesia mampu mendapat pengakuan internasional.
“Penghargaan global ini harus dibaca sebagai sinyal bahwa Indonesia memiliki banyak praktik baik di daerah, terutama ketika perusahaan, sekolah, guru, siswa, dan masyarakat bergerak bersama untuk menyelesaikan persoalan pendidikan,” ujarnya.
Ia mengatakan, lokasi SMPN 6 Anggana yang berada di ujung Delta Mahakam dan harus ditempuh melalui jalur sungai selama sekitar tiga jam menggambarkan besarnya tantangan pendidikan di wilayah pesisir.
“Di tempat seperti Sepatin, akses pendidikan bukan hanya soal bangunan sekolah, tetapi juga soal keberanian guru mengabdi, ketekunan siswa belajar, dan kehadiran dukungan nyata dari berbagai pihak,” ucapnya.
Tohom memandang keberadaan laptop, listrik tenaga surya, akses internet, taman belajar, serta program penguatan kapasitas guru sebagai fondasi penting untuk mempersempit kesenjangan pendidikan antara wilayah kota dan daerah 3T.
“Anak-anak pesisir tidak boleh tertinggal dari anak-anak kota hanya karena jarak, infrastruktur, dan kondisi geografis, sehingga teknologi pendidikan harus menjadi jembatan pemerataan,” katanya.
Menurut Tohom, keberhasilan guru SMPN 6 Anggana Nurul Fitriana meraih beasiswa Fulbright Distinguished Award in Teaching Program for International Teachers dari Pemerintah Amerika Serikat pada 2025 menjadi inspirasi besar bagi dunia pendidikan daerah terpencil.
“Ketika seorang guru dari sekolah pesisir bisa menembus program internasional, maka pesan moralnya sangat kuat bahwa kualitas manusia Indonesia bisa tumbuh dari mana saja selama diberi dukungan dan kesempatan,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi prestasi siswa SMPN 6 Anggana di bidang seni lukis dan menggambar tingkat internasional, termasuk karya Ainun Nisa yang dipamerkan di Abu Dhabi dan capaian Idul dalam Fish Art Contest di Amerika Serikat.
“Prestasi anak-anak ini membuktikan bahwa talenta besar sering kali lahir dari tempat yang jauh dari sorotan, sehingga tugas kita adalah membuka panggung agar mereka bisa terlihat dan berkembang,” katanya.
Tohom yang juga Pengamat Energi dan Lingkungan ini mengatakan bahwa Program Sekolah Negeri Terapung juga menarik karena tidak hanya bicara pendidikan, tetapi turut mengaitkan pembelajaran dengan ekosistem pesisir melalui kegiatan penanaman mangrove dan penguatan kesadaran lingkungan.
“Pendidikan masa depan harus menyatu dengan kesadaran ekologis, karena anak-anak pesisir adalah generasi yang paling dekat dengan perubahan lingkungan, abrasi, mangrove, sungai, laut, dan keberlanjutan sumber daya alam,” ujarnya.
Ia menilai langkah PHM dan PHI melakukan monitoring and evaluation secara langsung ke lokasi program merupakan praktik penting agar CSR tidak berhenti sebagai laporan administratif, melainkan benar-benar dirasakan penerima manfaat.
“Program yang baik harus terus dievaluasi di lapangan, didengar suara gurunya, dilihat kebutuhan siswanya, dan dipastikan manfaatnya sampai kepada masyarakat,” ucapnya.
Menurut Tohom, fase pengembangan program yang mencakup Penguatan Profil Pelajar Pancasila, edukasi bahaya NAPZA, regenerasi guru penggerak dari siswa lokal, magang sarjana pesisir, kurikulum muatan lokal, dan pendampingan beasiswa menunjukkan arah pembangunan pendidikan yang visioner.
“Yang paling menarik adalah gagasan regenerasi guru dari anak-anak lokal, karena desa akan jauh lebih kuat ketika anak-anaknya kelak kembali untuk membangun kampungnya sendiri,” katanya.
MARTABAT Prabowo-Gibran berharap model Sekolah Negeri Terapung dapat direplikasi di wilayah pesisir dan 3T lainnya sebagai bagian dari gerakan besar pemerataan pendidikan, penguatan SDM, dan pembangunan Indonesia dari pinggiran.
“Jika Indonesia ingin menjadi negara maju, maka anak-anak di Delta Mahakam, pulau kecil, pesisir, perbatasan, dan pedalaman harus mendapat ruang tumbuh yang sama besarnya dengan anak-anak di kota besar,” ujar Tohom.
[Redaktur: Sandy]