WAHANANEWS.CO, Jakarta - MARTABAT Prabowo–Gibran merespons positif langkah Pemerintah Kota Mataram yang menginisiasi program reduksi sampah berbasis lingkungan melalui inovasi tempah dedoro.
Gerakan pengolahan sampah organik dari tingkat rumah tangga ini dinilai sejalan dengan visi besar pembangunan berkelanjutan yang menempatkan rakyat sebagai subjek utama perubahan, sekaligus memperkuat ketahanan lingkungan nasional dari hulu.
Baca Juga:
TPA Cipeucang Ditutup, Tangsel Rogoh Rp90 Juta per Hari untuk Buang Sampah ke Cileungsi
Ketua Umum Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo–Gibran, KRT Tohom Purba, menegaskan bahwa pendekatan pengelolaan sampah yang dimulai dari rumah merupakan solusi paling realistis dan berdampak jangka panjang.
“Apa yang dilakukan Pemkot Mataram menunjukkan bahwa solusi lingkungan tidak harus mahal dan rumit. Ketika warga diberi ruang, alat, dan kepercayaan, hasilnya bisa langsung terasa, bahkan mampu menekan timbunan sampah hingga lebih dari 50 persen,” ujar Tohom, Selasa (13/1/2026).
Menurut Tohom, keberhasilan tempah dedoro membuktikan bahwa pengelolaan sampah tidak bisa semata-mata dibebankan pada pemerintah melalui tempat pembuangan akhir.
Baca Juga:
Dukung Langkah KLH, MARTABAT Prabowo–Gibran Dorong Standardisasi Nasional Pengelolaan Sampah
Ia menilai, beban TPA selama ini terlalu besar karena sistemnya masih bertumpu pada pengumpulan, bukan pengurangan dari sumber.
“Model Mataram ini membalik cara pandang. Sampah tidak lagi dipindahkan, tetapi dikelola sejak awal. Ini pendekatan yang visioner,” katanya.
Ia juga menyoroti aspek biaya yang relatif terjangkau dalam program tersebut.
Dengan anggaran sekitar Rp800 ribu hingga Rp1 juta per unit yang bisa digunakan oleh tiga hingga empat kepala keluarga, Tohom menilai tempah dedoro sebagai investasi lingkungan yang efisien.
“Bayangkan jika model ini direplikasi secara nasional, dari desa hingga kota. Dampaknya bukan hanya pada kebersihan, tetapi juga pada penguatan ekonomi sirkular berbasis kompos dan pemanfaatan ulang,” jelasnya.
Tohom menambahkan, keterlibatan warga dalam memilah dan mengolah sampah organik akan membentuk budaya baru yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Ia menilai partisipasi aktif masyarakat adalah kunci keberhasilan, bukan sekadar regulasi atau proyek jangka pendek.
“Ketika warga merasakan langsung manfaatnya, yakni lingkungan lebih bersih, bau berkurang, dan hasil kompos bisa dimanfaatkan, maka kesadaran itu akan tumbuh secara mandiri,” ucapnya.
Tohom yang juga Pengamat Energi dan Lingkungan ini menyebutkan bahwa pengelolaan sampah organik memiliki keterkaitan erat dengan isu energi dan perubahan iklim.
“Sampah organik yang dibiarkan menumpuk di TPA akan menghasilkan emisi metana yang berbahaya. Dengan mengolahnya di tingkat rumah tangga, kita bukan hanya mengurangi sampah, tetapi juga menekan emisi gas rumah kaca. Ini langkah konkret menuju transisi lingkungan yang lebih sehat,” katanya.
Ia mendorong agar praktik serupa tidak hanya diterapkan di kawasan permukiman, tetapi juga di sektor perkantoran, hotel, restoran, sekolah, dan katering, sebagaimana yang direncanakan Pemkot Mataram.
Menurutnya, kolaborasi lintas sektor akan mempercepat terciptanya ekosistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
“Negara, pemerintah daerah, dan rakyat harus bergerak bersama. Inilah semangat gotong royong modern yang kami dorong,” ujar Tohom.
MARTABAT Prabowo–Gibran memandang inovasi tempah dedoro sebagai contoh nyata kebijakan lokal yang visioner dan aplikatif, serta layak dijadikan model nasional.
Dengan dukungan kebijakan yang tepat dan penguatan edukasi publik, Tohom optimistis Indonesia mampu mengurangi ketergantungan pada TPA sekaligus membangun masa depan lingkungan yang lebih bermartabat.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]