WAHANANEWS.CO, Jakarta - Pemerintah melalui Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) memastikan layanan konsumsi bagi jemaah haji Indonesia di Tanah Suci tetap menghadirkan cita rasa khas nusantara.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui pengawasan langsung terhadap dapur penyedia makanan yang berlokasi di kawasan Safwat Al Wessam, Distrik Walyal Ahd District, Mekkah, Arab Saudi.
Baca Juga:
Indonesia Butuh 280 Ribu Dokter untuk Capai Rasio Ideal Pelayanan Kesehatan
Langkah ini dilakukan guna memastikan seluruh proses penyediaan konsumsi berjalan sesuai standar yang telah ditetapkan, baik dari sisi kualitas rasa, kebersihan, hingga keamanan pangan.
Pemerintah menilai layanan konsumsi menjadi salah satu aspek penting dalam mendukung kelancaran dan kenyamanan ibadah jemaah selama berada di Tanah Suci.
Menteri Haji dan Umrah Moch Irfan Yusuf mengatakan, pihaknya melakukan supervisi dan pengecekan langsung terhadap dapur aktif oleh jajaran pimpinan Kemenhaj.
Baca Juga:
Komdigi Putus Sementara Akses Grok, Lindungi Publik dari Konten Pornografi AI
Hal ini untuk memastikan layanan konsumsi berjalan optimal dan higienis.
“Aspek kebersihan menjadi perhatian utama dalam supervisi ini, seluruh area penyimpanan bahan makanan dipastikan dalam kondisi bersih dan higienis, memenuhi standar keamanan pangan. Pengecekan juga dilakukan menyeluruh mulai dari area dapur, proses memasak, hingga tahap pengemasan,” kata Irfan dalam keterangannya di Jakarta, Minggu 15 Februari 2026.
Ia menjelaskan, penyedia konsumsi jamaah haji akan menggunakan bumbu masak asli dari Indonesia, termasuk beras.
Kebijakan tersebut diambil untuk menjaga konsistensi rasa dan memastikan jamaah tetap dapat menikmati hidangan dengan cita rasa yang familiar seperti di tanah air.
“Pemerintah juga meminta agar pengolahan beras Indonesia dilakukan sesuai standar yang biasa diterapkan di Indonesia. Sehingga kualitas tekstur dan rasa nasi tetap terjaga,” ujarnya.
Penggunaan bahan baku dari Indonesia dinilai penting untuk menjaga selera jemaah yang sebagian besar telah terbiasa dengan masakan nusantara.
Dengan cita rasa yang akrab, diharapkan kondisi fisik dan semangat ibadah jemaah tetap terjaga.
Menurut Irfan, pengawasan langsung ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk menjaga standar layanan konsumsi haji Indonesia tetap profesional.
Sekaligus berorientasi pada kenyamanan jemaah selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.
Selain menitikberatkan pada kualitas dan kebersihan, pemerintah juga memberi perhatian serius pada kecukupan jumlah makanan yang diproduksi.
Kapasitas dapur, sistem distribusi, serta ketepatan waktu pengiriman makanan ke pemondokan jemaah menjadi bagian dari evaluasi dalam supervisi tersebut.
Hal ini dilakukan agar seluruh jemaah memperoleh layanan konsumsi secara merata dan tepat waktu.
Kemenhaj berharap, dengan supervisi ketat dan penggunaan bahan baku dari Indonesia, layanan konsumsi jamaah haji dapat memberikan kenyamanan. Serta mendukung kelancaran ibadah selama berada di Mekkah.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]