Salah satu staf kecamatan, Rohmat, kemudian mengusulkan ide menyuling sampah plastik menjadi BBM dengan alat yang dirakit sendiri dari tong bekas dan pipa logam.
Hingga saat ini, prosesnya sudah berlangsung meski belum dilakukan pengukuran pasti terkait hasil produksi per kilogram sampah plastik.
Baca Juga:
Bhabinkamtibmas Hadiri Pelepasan dan Perpisahan Siswa SMP Negeri 11 Muaro Jambi Angkatan ke-34
Fokus utama dari program ini bukan pada nilai ekonomis, melainkan pengurangan volume sampah yang masuk ke TPA Jatibarang, yang diprediksi hanya mampu menampung sampah selama tiga tahun ke depan.
Tohom yang juga Pengamat Energi dan Lingkungan ini menuturkan pentingnya kolaborasi antara masyarakat, pemerintah daerah, sektor swasta, dan akademisi untuk memperluas manfaat dari inovasi semacam ini.
Ia menyarankan pengadaan alat penyulingan melalui dana CSR serta pembentukan klaster inovasi lingkungan di setiap kecamatan.
Baca Juga:
KEK Mandalika Jadi Magnet Investor, MARTABAT Prabowo-Gibran: Insentif Pajak Percepat Transformasi Ekonomi Berbasis Pariwisata
“Kalau semua wilayah bisa punya program mandiri seperti ini, Indonesia bisa mempercepat transisi menuju pengelolaan sampah berkelanjutan dan energi alternatif. Tak hanya hanya urusan kebersihan, ini juga berkaitan dengan kedaulatan energi dan ketahanan lingkungan,” ujar Tohom.
Sebelumnya, Frida mengungkapkan bahwa warga Gunungpati diminta membawa sampah plastik dari rumah masing-masing setiap apel pagi, baik ASN maupun non-ASN.
Sampah itu kemudian digunakan sebagai bahan baku penyulingan yang masih terus dikembangkan.