WAHANANEWS.CO, Jakarta - Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran menyatakan dukungan penuh terhadap langkah Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) yang mendorong Kecamatan Muara Jawa menjadi pilot project tata kelola sampah tingkat Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim).
Dukungan tersebut dinilai sejalan dengan semangat pembangunan berkelanjutan dan penguatan ekonomi hijau berbasis masyarakat.
Baca Juga:
Bripda Masias Siahaya Oknum Brimob yang Aniaya Siswa Pakai Helm Hingga Tewas Terancam Pasal Berlapis
Ketua Umum MARTABAT Prabowo-Gibran, KRT Tohom Purba, menegaskan bahwa pengelolaan sampah yang terintegrasi bukan hanya program kebersihan, tetapi fondasi peradaban modern.
“Muara Jawa menunjukkan bahwa tata kelola sampah bisa menjadi instrumen perubahan sosial dan ekonomi. Ini bukan hanya soal bersih, tapi soal membangun budaya dan kemandirian masyarakat. Kami melihat ini sebagai model yang layak direplikasi secara nasional,” ujar Tohom, Senin (23/2/2026).
Sebagaimana diketahui, Kecamatan Muara Jawa kini dipersiapkan menjadi garda terdepan pengelolaan sampah di Kaltim.
Baca Juga:
Wabup Kutai Kartanegara Tekankan Pentingnya Layanan Air Bersih Bagi Masyarakat
Melalui dukungan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kukar, wilayah ini menguatkan Gerakan Muara Jawa Bersih (GMJB) berbasis Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) 3R (Reduce, Reuse, Recycle).
Program tersebut bahkan ditopang inovasi “BERSERI” (Bersih, Sehat, Rapi, dan Indah) yang menjadi bagian dari Pelatihan Kepemimpinan Administrator 2025.
Tohom menilai, pendekatan berbasis komunitas seperti di Muara Jawa menjadi kekuatan utama keberlanjutan program.
“Kalau komunitasnya sudah solid, tinggal diperkuat sinerginya. Ini modal sosial yang sangat mahal. Pemerintah tinggal memastikan konsistensi kebijakan dan dukungan anggaran,” katanya.
Ia juga menyoroti inovasi pengolahan sampah menjadi produk bernilai tambah, seperti konversi sampah plastik menjadi bahan bakar setara minyak tanah/solar serta produksi paving block.
Menurutnya, langkah tersebut membuktikan bahwa sampah dapat menjadi sumber energi alternatif sekaligus peluang ekonomi baru.
Tohom yang juga Pengamat Energi dan Lingkungan ini mengatakan bahwa konversi sampah menjadi energi harus dikawal dengan standar teknologi dan pengawasan emisi yang ketat.
“Waste to energy adalah solusi masa depan, tetapi harus memenuhi prinsip keberlanjutan dan keselamatan lingkungan. Jika dikelola baik, ini bisa mengurangi beban TPA sekaligus menciptakan ekonomi sirkular di daerah,” jelasnya.
Lebih jauh, ia menilai target memboyong Piala Adipura 2027 bukan sekadar ambisi simbolik.
Menurutnya, penghargaan tersebut harus dijadikan parameter keberhasilan sistem yang benar-benar hidup di tengah masyarakat.
“Adipura itu bonus. Yang paling penting adalah perubahan perilaku. Ketika pengelolaan sampah menjadi gaya hidup, maka Kukar akan bersih bukan karena lomba, tetapi karena kesadaran kolektif. Inilah esensi pembangunan berkelanjutan,” tegas Tohom.
MARTABAT Prabowo-Gibran pun mendorong agar Muara Jawa dijadikan laboratorium kebijakan lingkungan berbasis masyarakat di Kaltim.
Jika konsisten, model ini diyakini mampu memperkuat citra daerah sekaligus mendukung agenda nasional transisi energi dan ekonomi hijau.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]