WAHANANEWS.CO, Jakarta - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr. Suharyanto, S.Sos., M.M. menegaskan bahwa upaya penanganan bencana tanah bergerak di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah terus dilakukan secara maksimal.
Pernyataan tersebut disampaikan saat ia berdialog langsung dengan warga terdampak di pos pengungsian Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Rabu (19/2/2026).
Baca Juga:
BNPB Catat 28 Bencana dalam Sehari, Banjir dan Longsor Dominasi Pulau Jawa
Kehadirannya merupakan tindak lanjut arahan Presiden agar penanganan bencana tetap berjalan optimal, terlebih di tengah pelaksanaan ibadah puasa Ramadan.
Ia menekankan bahwa kebutuhan dasar para pengungsi harus segera terpenuhi.
Dalam kesempatan itu, Suharyanto memastikan pemerintah akan membangun hunian sementara (huntara) bagi warga yang rumahnya rusak, sebelum nantinya dipindahkan ke hunian tetap (huntap).
Baca Juga:
Banjir Meluas di Grobogan, 9 Ribu KK Terdampak dan Ribuan Rumah Masih Tergenang
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr. Suharyanto, S. Sos., M.M. (kemeja hijau dan rompi hijau) saat berdialog dengan warga terdampak di pos pengungsian Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal pada Rabu (19/2/2026).
“Diibangun huntara sebanyak 900 unit, sementara telah disiapkan lahan untuk 500 unit,” ujar Suharyanto.
Untuk mempercepat proses pembangunan di tengah keterbatasan lahan, BNPB menawarkan opsi pembangunan huntara secara mandiri sesuai pilihan warga, dengan dukungan pemerintah desa dalam penyediaan lahan.
“Huntara bisa dibangun mandiri, satu per satu per warga, sehingga Kepala Desa diharapkan dapat menyiapkan lahannya,” lanjutnya.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr. Suharyanto, S. Sos., M.M. (kemeja hijau dan rompi hijau) saat berdialog dengan warga terdampak di pos pengungsian Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal pada Rabu (19/2/2026).
Selain itu, warga diberi keleluasaan menentukan tempat tinggal sementara, baik tetap di pengungsian, menumpang di rumah keluarga, maupun menyewa tempat tinggal.
Pemerintah menyiapkan bantuan dana tunggu hunian bagi yang tidak menetap di pos pengungsian hingga huntara selesai dibangun.
“Warga juga diberikan kebebasan untuk memilih tinggal di pengungsian, tinggal bersama di rumah kerabat atau mengontrak. Akan diberikan dana tunggu hunian sebesar 600 ribu per bulan per kepala keluarga bagi warga yang memilih tidak menempati pos pengungsian hingga huntara selesai dibangun,” tegas Suharyanto.
Tak hanya huntara, pembangunan huntap juga tengah dipersiapkan. Warga dapat memilih skema terpusat atau mandiri, selama lokasi yang dipilih aman dari potensi bencana dan memenuhi kriteria pemerintah.
Sejumlah bantuan yang tersedia bagi warga terdampak dan sebagian warga sedang mempersiapkan makanan bagi para warga pengungsi di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah pada Rabu (19/2/2026).
“Huntap akan segera dibangun, bisa bersifat terpusat san mandiri. Jika ada warga yang ingin dibangunkan di luar Kabupaten Tegal pun tetap diizinkan,” tuturnya.
Sebagai langkah jangka panjang, BNPB akan berkoordinasi dengan berbagai instansi untuk merelokasi warga yang tinggal di kawasan rawan tanah bergerak.
Area terdampak nantinya akan direhabilitasi melalui reboisasi dan tidak lagi difungsikan sebagai permukiman.
Sejumlah bantuan yang tersedia bagi warga terdampak dan sebagian warga sedang mempersiapkan makanan bagi para warga pengungsi di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah pada Rabu (19/2/2026).
“Salah satu solusinya harus relokasi, cari tempat baru yanh aman dan relokasi. Tempat yang sudah terjadi bencana tanah bergerak dilakukan reboisasi dan tidak bisa ditempati manusia lagi,” pungkasnya.
Pada akhir kunjungan, BNPB turut menyalurkan bantuan logistik berupa bahan pangan dan peralatan guna mendukung kebutuhan pengungsi serta memperkuat penanganan darurat oleh pemerintah daerah.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]