WAHANANEWS.CO, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto menegaskan pemerintahannya tetap membuka ruang bagi kritik dan tidak pernah memandang kritik sebagai ancaman, namun mengingatkan bahwa kritik harus dibedakan dengan caci maki maupun fitnah yang dapat merusak kualitas demokrasi.
"Kita negara demokrasi. Kita tidak antikritik. Kritik itu menyelamatkan, tapi ada beda kritik dan caci maki. Kritik dengan fitnah itu beda," tegas Prabowo saat menghadiri peringatan Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Kamis (24/7/2026) malam.
Baca Juga:
Bikin Kaget! Qodari Ungkap Sawit Ilegal di Indonesia Capai 6 Juta Hektare, Setara 12 Kali Pulau Bali
Menurut Prabowo, pemerintah memahami adanya berbagai dinamika politik yang berkembang, termasuk munculnya narasi yang berupaya membangun persepsi negatif terhadap kondisi bangsa maupun jalannya pemerintahan.
"Kita paham ada kampanye besar untuk kita goyah. Indonesia (disebut) akan kolaps," ujar Prabowo.
Meski demikian, ia memastikan berbagai kritik dan narasi yang berkembang tidak akan menggoyahkan langkah pemerintah selama seluruh kebijakan tetap berpijak pada kepentingan rakyat dan dijalankan di jalur yang benar.
Baca Juga:
Baru 1,5 Bulan Menjabat, Kepala BGN Nanik S Deyang Mendadak Mengundurkan Diri
"Tidak ada masalah. Kalau kita benar, kalau kita berada di jalan yang benar, kita terus akan kuat," ujar Prabowo.
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo juga mengajak seluruh elemen bangsa untuk terus memelihara optimisme serta memberikan dukungan terhadap berbagai program pembangunan nasional yang sedang dijalankan pemerintah.
Ia kemudian mengibaratkan pemerintahan sebagai sebuah tim sepak bola yang sedang bertanding dan membutuhkan semangat serta dukungan dari para pendukungnya agar mampu meraih kemenangan.
"Kalau kita cinta sama satu kesebelasan, umpamanya dia lagi bertanding di lapangan, kita kan sebagai suporter, ‘Ayo, ayo, maju', tapi jangan turunkan moral dong, orang lagi bertanding di situ. Nanti kamu kalah," ujar Prabowo.
Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa pemerintah tetap menerima kritik sebagai bagian dari kehidupan demokrasi, namun berharap kritik disampaikan secara konstruktif sehingga dapat menjadi masukan yang membangun dan bukan sarana menyebarkan fitnah ataupun meruntuhkan kepercayaan publik terhadap bangsa.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]