Sejak 1 Juli 1972, ia bergabung dengan Harian Sinar Harapan hingga pencabutan SIUPP pada 8 Oktober 1986, yang kemudian terbit kembali sebagai Suara Pembaruan pada 4 Februari 1987 hingga masa pensiunnya pada 1 Mei 1998.
Meski pensiun, Annie tetap aktif menulis hingga akhir 2000 dan kembali ke Sinar Harapan pada 2001 sebagai anggota Dewan Redaksi.
Baca Juga:
Breaking News: Aktivis Batak Jhonson Panjaitan Tutup Usia
Sebagian besar kariernya dihabiskan meliput lingkungan Departemen Luar Negeri, menjadikannya sosok yang dikenal luas di kalangan diplomatik baik di dalam maupun luar negeri.
Kedekatannya dengan sejumlah pejabat penting, termasuk Moerdiono pada era Orde Baru, membuatnya memahami berbagai pernyataan strategis pemerintah, namun ia tetap menjaga independensi sebagai wartawan profesional dengan terus mencari klarifikasi.
Mobilitas tinggi menjadi ciri khasnya, menjelajahi berbagai negara di Eropa, Amerika, Australia, hingga Asia, membuat rekan-rekannya bergurau bahwa ia lebih hafal peta dunia dibandingkan kota-kota di Indonesia.
Baca Juga:
Selamat Jalan Malyda, Pelantun 'Jadi Satu' Berpulang di Usia 61 Tahun
“Tugas ke luar negeri seperti ke Pasar Baru saja,” ujar rekan-rekannya menggambarkan frekuensi perjalanannya yang luar biasa.
Ketertarikannya menjadi wartawan diakui karena profesi tersebut dianggapnya glamour, terlebih ia ditempatkan di desk luar negeri yang memberinya kesempatan luas untuk bepergian.
Dalam berbagai kesempatan, Annie dikenal lincah mengumpulkan informasi dan berani melontarkan pertanyaan tajam, bahkan dalam forum internasional.