Inflasi Pengamat
Dalam kesempatan itu Teddy, juga menegaskan bahwa pemerintah terbuka terhadap kritik dan masukan dari berbagai pihak, dengan penekanan pada pentingnya penyampaian yang berbasis data dan fakta.
Baca Juga:
Bahas Proyek Hilirisasi Rp100 Triliun, Prabowo Terima Rosan di Hambalang
Namun, menurutnya saat ini ada fenomena yang terjadi yaitu "inflasi pengamat", yakni meningkatnya jumlah pihak yang menyampaikan opini di ruang publik tanpa didukung latar belakang keahlian maupun data yang akurat.
Teddy menambahkan bahwa sebagian opini yang berkembang di masyarakat tidak sepenuhnya berbasis fakta dan berpotensi menyesatkan publik. Meski demikian, Seskab menekankan bahwa tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah tetap tinggi.
"Ada pengamat militer, ada pengamat luar negeri. Dan pengamat-pengamat itu datanya tidak sesuai fakta. Datanya keliru, "ucap Seskab.
Baca Juga:
Hadiri Rakornas Data Tunggal Sosial Ekonomi, Seskab Teddy Tekankan Pentingnya Akurasi Data
"Tapi faktanya apa? Faktanya lebih dari 96 juta warga lebih percaya Pak Prabowo, tidak percaya mereka. Itu adalah bukti nyata kepercayaan publik. Bukan suatu asumsi," lanjutnya.
Lebih lanjut, Teddy menyampaikan bahwa perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar dalam demokrasi. Pemerintah, menurutnya, tidak menutup ruang kritik, selama disampaikan secara konstruktif dan tidak menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
"Jadi saya kira boleh kita berbeda pandangan, boleh berbeda pendapat. Silakan beri kritik, tapi jangan sampai kita memberi statement yang mengarah pada kecemasan, membuat orang cemas terhadap negeri ini. Semuanya stabil, semuanya terkendali," ujarnya.