WAHANANEWS, Jakarta – Federasi Sepak Bola Senegal (FSF) resmi mengakhiri kerja sama dengan pelatih tim nasional Pape Thiaw beserta seluruh jajaran staf kepelatihannya.
Keputusan tersebut diambil setelah federasi melakukan evaluasi menyeluruh terhadap performa tim nasional, terutama menyusul kegagalan Senegal memenuhi target pada ajang Piala Dunia 2026.
Baca Juga:
BNN dan Lemhannas Perkuat Kolaborasi Global Lawan Narkotika
Dalam pernyataan resminya seperti dilaporkan RRI pada Rabu (15/7/2026), FSF menjelaskan bahwa pergantian pelatih dilakukan sebagai bagian dari upaya membangun kembali kekuatan tim nasional untuk menghadapi agenda internasional berikutnya.
"Setelah mengevaluasi penampilan tim nasional dan prospeknya. Komite Eksekutif menilai perubahan diperlukan demi kepentingan sepak bola Senegal," tulis pernyataan resmi FSF.
Pape Thiaw mulai menangani Senegal setelah menggantikan Aliou Cisse yang diberhentikan pada Oktober 2024.
Baca Juga:
Mathius Petinju Juara Internasional di Malaysia Dapat Dana Pembinaan dari Manajer PLN UP3 Nias
Sebelumnya, Thiaw merupakan asisten Cisse dan dianggap sebagai sosok yang memahami karakter permainan tim berjuluk Singa Teranga tersebut.
Selama menukangi Senegal, Thiaw tetap mempertahankan fondasi permainan yang telah dibangun pendahulunya, namun melakukan sejumlah penyesuaian dalam komposisi pemain.
Krepin Diatta dipermanenkan sebagai bek kanan, sedangkan El Hadji Malick Diouf dipercaya mengisi sektor kiri pertahanan.
Di bawah arahannya, Senegal sempat tampil solid pada ajang Piala Afrika (AFCON).
Tim mampu menunjukkan pertahanan disiplin dengan hanya kebobolan dua gol sepanjang tujuh pertandingan.
Meski demikian, perjalanan mereka di turnamen tersebut diwarnai kontroversi besar pada partai final menghadapi Maroko.
Insiden bermula ketika gol Senegal dianulir oleh wasit, sementara Maroko mendapatkan hadiah tendangan penalti. Keputusan tersebut memicu protes keras dari kubu Senegal.
Pape Thiaw bersama para pemain bahkan memilih meninggalkan lapangan (walk-out) sebagai bentuk keberatan terhadap keputusan perangkat pertandingan.
Akibat insiden tersebut, pertandingan sempat terhenti lebih dari sepuluh menit karena terjadi kericuhan yang melibatkan suporter dan sejumlah ofisial.
Setelah situasi kembali kondusif, laga dilanjutkan hingga Senegal akhirnya memastikan kemenangan melalui gol yang dicetak Pape Gueye.
Meski berhasil meraih kemenangan di lapangan, kontroversi tersebut berbuntut panjang.
Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) menjatuhkan sanksi kepada Pape Thiaw, sementara hasil pertandingan akhirnya dibatalkan.
Usai pertandingan, Thiaw membela tindakannya melalui media sosial.
"Saya hanya berusaha melindungi pemain dari ketidakadilan," tulisnya.
CAF kemudian menjatuhkan hukuman larangan mendampingi tim selama lima bulan.
Namun di dalam negeri, respons publik justru berbanding terbalik.
Ribuan pendukung menyambut kepulangan tim nasional layaknya pahlawan, sedangkan Thiaw mendapat banyak dukungan karena dinilai berani memperjuangkan keadilan bagi timnya.
Situasi mulai berubah setelah Senegal tampil mengecewakan di Piala Dunia 2026.
Salah satu hasil yang paling disorot adalah kekalahan dramatis dari Belgia setelah sempat unggul 2-0.
Hasil tersebut memunculkan kritik terhadap strategi permainan sekaligus mengindikasikan adanya persoalan di dalam skuad.
Dugaan mengenai masalah internal semakin menguat setelah gelandang Pape Gueye mengumumkan keputusannya untuk tidak memperkuat tim nasional selama Pape Thiaw masih menjabat sebagai pelatih kepala.
Melalui akun media sosial pribadinya, @p.gueye24, Gueye menyampaikan sikapnya secara terbuka.
"Selama staf pelatih ini masih bertugas, saya memilih beristirahat dari tim nasional," tulisnya.
Pernyataan tersebut tidak disertai penjelasan rinci mengenai penyebab perselisihan dengan staf pelatih.
Namun, unggahan itu memunculkan spekulasi luas mengenai adanya konflik internal yang turut memengaruhi performa Senegal di lapangan.
Di tengah situasi tersebut, Thiaw juga mengungkapkan bahwa persoalan kontraknya baru diselesaikan menjelang pertandingan melawan Norwegia.
Menurutnya, persoalan tersebut bukan berkaitan dengan nilai kontrak, melainkan bentuk penghargaan dari federasi.
"Ini bukan soal uang, tetapi prinsip dan rasa hormat," ujarnya, sebelum akhirnya resmi diberhentikan oleh Federasi Sepak Bola Senegal.
Dengan keputusan ini, FSF akan mulai mencari pelatih baru yang diharapkan mampu membawa Senegal bangkit dan kembali bersaing di level tertinggi sepak bola Afrika maupun dunia.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]