“Kepemimpinan global tidak hanya ditunjukkan kepada masyarakat internasional, tetapi juga harus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Indonesia sendiri. Apa manfaatnya bagi para petani kita? Bagi pelaku UMKM kita? Keketuaan D-8 harus menjawab pertanyaan tersebut,” katanya.
Dalam konteks kerja sama sosial budaya dan kemitraan strategis, isu kepemudaan menjadi salah satu pilar kolaborasi selama masa keketuaan Indonesia.
Baca Juga:
DPR: PP Tunas Jadi Kunci Bentuk Anak Indonesia yang Kuat dan Berkarakter
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora) untuk memperkuat agenda kepemudaan dalam kerangka D-8.
Fokusnya meliputi peningkatan kapasitas dan peran pemuda dalam diplomasi ekonomi, transisi energi, serta pengembangan inovasi lintas negara, terutama menjelang dan selama masa keketuaan Indonesia pada 2026.
Direktur Sosial Budaya dan Kemitraan Strategis Kemlu RI, Ary Aprianto, menjelaskan bahwa berbagai forum pemuda terus didorong untuk memastikan suara generasi muda terakomodasi dalam arsitektur kerja sama pembangunan antarnegara berkembang.
Baca Juga:
Targetkan Generasi Muda Mampu Bersaing Masuk Sekolah Unggulan Di Taput
"OIC Youth Indonesia aktif mendorong forum pemuda dan jejaring kolaborasi lintas negara, termasuk D-8 Youth Dialogue 2025, untuk mengintegrasikan suara pemuda dalam arsitektur kerja sama pembangunan. Selain itu, Kemlu juga bekerja sama dengan Kemendag, Kemenpar, Kemen-Ekraf, dan kementerian lainnya,” jelasnya.
Forum Tematik Bakohumas ini sekaligus menjadi ruang koordinasi lintas kementerian dan lembaga guna menyampaikan informasi yang utuh, selaras, dan mudah dipahami publik mengenai keketuaan Indonesia di D-8.
Melalui sinergi antarsektor, partisipasi generasi muda diharapkan tidak hanya menjadi simbolis, tetapi benar-benar terintegrasi dalam berbagai agenda pembangunan nasional dan kerja sama antarnegara berkembang yang berkelanjutan.