Rima menjelaskan, kondisi ini dipengaruhi oleh minimnya waktu persiapan dibandingkan negara pesaing.
"Persiapan kontingen memadukan tim utama yang berlatih setahun lebih untuk Paralimpiade LA dengan tim khusus APG berlatih dua bulan. Program latihan dipadatkan dari biasanya enam bulan menjadi hanya 2,5 bulan dengan intensitas tinggi," ujarnya.
Baca Juga:
Indonesia Pamerkan Identitas Bangsa dalam Pembukaan ASEAN Para Games
Ia menambahkan, strategi pelatih yang fokus pada pemilihan nomor optimal serta program latihan yang efisien terbukti mampu mendekatkan atlet pada performa puncak.
Proses regenerasi atlet juga berjalan positif, ditandai dengan hadirnya puluhan atlet baru yang menggantikan atlet senior yang mengalami penurunan performa.
Namun demikian, NPC Indonesia juga mencatat sejumlah persoalan serius terkait penyelenggaraan oleh tuan rumah Thailand.
Baca Juga:
Indonesia Pasang Target 82 Emas di ASEAN Para Games 2025, Erick Thohir Ingatkan Kekuatan Thailand
Beberapa protes resmi telah disampaikan, terutama mengenai aspek non-teknis yang dinilai merugikan kontingen peserta.
"Pelayanan akomodasi, makanan, dan transportasi dinilai buruk di beberapa lokasi seperti Suranari," kata Rima menjelaskan.
Selain itu, pelaksanaan pertandingan disebut sarat kejanggalan. Pada beberapa nomor, hanya tiga atlet tuan rumah Thailand yang bertanding sehingga otomatis meraih medali, tanpa kehadiran lawan dari negara lain. Kondisi ini dinilai tidak adil dan mencederai semangat sportivitas.