Setiap atlet wajib menjalani klasifikasi sebelum diperbolehkan mengikuti kompetisi resmi, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Pemerataan tenaga klasifikasi juga dinilai membuka kesempatan yang lebih luas bagi penyandang disabilitas di berbagai daerah untuk menjadi atlet berprestasi.
Baca Juga:
Pejabat Baru Kemenpora Dilantik, Menpora Erick Tekankan Integritas dan Efektivitas Kinerja
Melalui proses klasifikasi yang tepat, atlet dapat ditempatkan pada cabang olahraga dan nomor pertandingan yang sesuai dengan kondisi fungsionalnya sehingga kompetisi berlangsung secara adil.
"Kita menghadapi tantangan, dengan luasnya wilayah Indonesia, masih sedikit kesadaran masyarakat di daerah bahwa para penyandang disabilitas juga bisa berprestasi. Klasifikasi menjadi hal yang sangat penting dalam olahraga disabilitas karena menjadi pondasi untuk pertandingan yang setara, sehingga tidak ada pertandingan tanpa proses klasifikasi," jelas Retno.
"Dengan adanya pelatihan di Makassar ini, diharapkan akan ada klasifier baru yang bisa membantu untuk memberikan klasifikasi di daerahnya masing masing, sehingga calon atlet yang direkrut sudah memiliki, atau paling tidak penempatan yang mendekati dalam perkiraan sport class. Dengan begitu, ketika akan dibina olah daerahnya, sport class dari calon atlet tersebut tidak meleset terlalu jauh. Ini hal yang baik dalam mencari bibit-bibit atlet baru karena kita harus mempersiapkan Paralympic 2028," imbuhnya.
Baca Juga:
Jelang Kompetisi Nasional, PSSI Fokus Tingkatkan Standar Layanan Medis Sepak Bola
Salah seorang peserta pelatihan dari Provinsi Bali, dr. Made Dwi Puja Setiawan, Sp. K.F.R., M.Ked.Klin., AIFO-K., mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru selama mengikuti pelatihan.
Menurutnya, materi yang diberikan sangat bermanfaat untuk mendukung proses klasifikasi atlet penyandang disabilitas di daerah.
"Menurut saya, pelatihan ini sangat penting untuk diberikan kepada tenaga klasifier dan disebar ke semua daerah karena tidak mungkin penyandang disabilitas hanya terpusat di kota-kota besar saja. Penyandang disabilitas di semua daerah memerlukan tenaga untuk mengklasifikasikan seorang atlet disabilitas, cocoknya kemana gitu, sehingga bisa menjangkau atlet lebih banyak dan variasi atlet yang dijangkau juga menjadi lebih banyak," ucap Made Puja.