Hingga saat ini, Indonesia baru memiliki 92 pelatih disabilitas yang berasal dari National Paralympic Committee Indonesia (NPCI), sehingga kebutuhan akan pelatih dan pendamping masih sangat besar.
"Untuk mendongkrak partisipasi berolahraga serta mencetak lebih banyak atlet disabilitas berprestasi, kita membutuhkan peningkatan jumlah pelatih, pendamping, dan penggerak olahraga disabilitas yang kompeten. Itulah yang melatarbelakangi dicetuskannya program ToT 'Berdaya' ini," ujar Arsani.
Baca Juga:
Fasilitas Belum Layak, Cirebon Tunda Ambisi Gelar Invitasi Atletik Nasional
Arsani menjelaskan, program "Berdaya" disusun secara sistematis melalui empat fase yang saling berkesinambungan agar mampu menghasilkan penggerak olahraga disabilitas yang berkualitas.
Fase pertama diawali dengan pembentukan master trainer yang bertugas menjadi instruktur bagi pelatih-pelatih di daerah.
"Telah dilaksanakan pada April lalu dengan melibatkan 30 atlet elite internasional. Peserta yang lulus seleksi komprehensif ini digembleng untuk siap menjadi instruktur bagi para pelatih di daerah," katanya.
Baca Juga:
Aspers Panglima TNI Hadiri Acara Puncak Peringatan Hari Sumpah Pemuda Tahun 2024
Tahap berikutnya merupakan pelaksanaan pelatihan intensif bagi para pelatih lokal yang memiliki komitmen untuk mengembangkan olahraga disabilitas di wilayah masing-masing.
Setelah itu, peserta akan memasuki fase aktualisasi, yaitu tahap penerapan ilmu dan keterampilan yang diperoleh melalui pendampingan langsung kepada komunitas maupun kelompok penyandang disabilitas.
"Fase Ketiga merupakan aktualisasi, yakni periode implementasi langsung di mana para pelatih menerapkan keterampilan yang didapat ke tingkat komunitas atau kelompok disabilitas." tambahnya.