WAHANANEWS.CO, Jakarta - Era kecerdasan buatan setara manusia disebut tinggal menghitung waktu, dan peringatannya datang langsung dari pucuk pimpinan OpenAI.
Perkembangan artificial intelligence (AI) kini melaju dengan kecepatan yang sulit dibayangkan, dari sekadar mampu mengobrol hingga sanggup menyelesaikan persoalan matematika rumit dan merancang kode pemrograman kompleks dalam hitungan detik.
Baca Juga:
Mahasiswa Baru ITB Wajib Ikut Mata Kuliah AI: Mulai 2026
Di tengah lonjakan teknologi tersebut, CEO OpenAI, Sam Altman, melontarkan prediksi mengejutkan soal kemunculan Artificial General Intelligence (AGI), yakni fase ketika mesin memiliki kecerdasan kognitif setara kemampuan otak manusia secara umum.
AGI selama ini kerap disebut sebagai “cawan suci” industri teknologi karena melampaui AI generatif yang hanya piawai di tugas-tugas spesifik seperti merangkum teks, membuat gambar, atau menulis kode.
Berbeda dengan AI saat ini yang dirancang untuk fungsi tertentu, AGI digambarkan sebagai mesin serbabisa yang mampu belajar mandiri, merencanakan strategi, serta memecahkan masalah baru lintas disiplin tanpa harus diprogram satu per satu oleh manusia.
Baca Juga:
Fast Respon Indonesia Center Dipercaya Untuk Mendukung Dan Monitor Kinerja Polri
Dalam forum diskusi di sela KTT India-AI Impact 2026 pada Rabu (18/2/2026), Altman secara terbuka menyebut bahwa wujud kecerdasan mesin setara manusia itu terasa semakin dekat.
"AGI terasa sudah cukup dekat pada titik ini," ujar Altman.
Pernyataan tersebut bukan sekadar retorika, karena ia menyoroti percepatan lompatan kemampuan model AI yang tengah dikembangkan di internal OpenAI.
Altman bahkan mengajak audiens menoleh enam tahun ke belakang untuk membandingkan persepsi publik kala itu dengan kondisi saat ini.
Jika enam tahun lalu orang ditanya soal sistem yang mampu melakukan riset ilmiah mandiri, menulis program komputer kompleks, hingga beroperasi layaknya dokter, pengacara, atau ilmuwan, sebagian besar akan menganggapnya mustahil.
Kini, kemampuan yang dulu terdengar seperti fiksi ilmiah itu mulai menunjukkan bentuk nyatanya, dan Altman menilai percepatan tersebut menandakan AGI berada di ambang realisasi.
Bahkan ia memprediksi fase takeoff atau titik lepas landas perkembangan AI akan berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan perkiraan awalnya.
Bukan hanya AGI yang disinggung, Altman juga mengangkat potensi kemunculan Artificial Superintelligence (ASI), yakni level kecerdasan mesin yang melampaui gabungan kemampuan manusia paling jenius sekalipun di hampir seluruh bidang ilmu.
Jika AGI disejajarkan dengan kecerdasan manusia pada umumnya, maka ASI digambarkan sebagai entitas superintelijen yang berada di atas kapasitas kognitif manusia.
"Mengingat apa yang sekarang saya perkirakan sebagai fase takeoff yang lebih cepat, saya rasa superintelijen tidak terlalu jauh," tegasnya.
Prediksi tersebut menjadi sinyal serius bagi dunia, karena apabila mesin yang melampaui kecerdasan penciptanya benar-benar lahir dalam hitungan tahun ke depan, maka umat manusia akan menghadapi gelombang disrupsi terbesar sepanjang sejarah peradaban modern.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]