WAHANANEWS.CO - Dunia ilmu kelautan dikejutkan oleh kemunculan seekor hiu raksasa di perairan beku Antarktika, mematahkan anggapan lama bahwa predator tersebut tak mampu bertahan di suhu ekstrem nyaris membeku.
Penemuan itu terjadi pada Januari 2025 saat kamera penelitian laut dalam merekam seekor hiu sleeper berukuran besar berenang perlahan di sekitar Pulau-pulau South Shetland dekat Semenanjung Antarktika, kawasan yang masuk dalam wilayah Samudra Selatan di bawah garis lintang 60 derajat selatan.
Baca Juga:
IKN Dikepung Banjir Awal 2026, Mentawir hingga Jalan Nasional Terendam
Peneliti laut dalam Alan Jamieson mengatakan temuan ini mengubah pandangan umum yang selama ini meyakini hiu tidak hidup di perairan Antarktika.
"Kami turun ke sana tanpa mengharapkan melihat hiu karena ada aturan umum bahwa hiu tidak ada di Antarktika," kata Jamieson dikutip dari AP.
"Dan ini bukan hiu kecil. Ini hiu yang besar. Makhluk-makhluk ini seperti tank," tambahnya.
Baca Juga:
Lautan Makin Panas, Ilmuwan Peringatkan Ancaman Badai Super Kategori 6
Hiu yang terekam diperkirakan memiliki panjang antara 3 hingga 4 meter dan terlihat berenang di kedalaman sekitar 490 meter dengan suhu air mencapai 1,27 derajat Celsius atau hampir menyentuh titik beku.
Rekaman tersebut diperoleh menggunakan kamera yang dioperasikan oleh Minderoo-UWA Deep-Sea Research Centre yang memang meneliti kehidupan di bagian terdalam lautan dunia.
Dalam gambar yang sama, seekor skate tampak diam di dasar laut dan tidak menunjukkan reaksi terhadap hiu yang melintas, sesuatu yang tidak mengejutkan para ilmuwan karena kerabat hiu tersebut memang telah diketahui menjangkau wilayah selatan ekstrem.
Jamieson menyebut dirinya belum menemukan catatan lain mengenai keberadaan hiu di Samudra Antarktika.
Ahli biologi konservasi dari Universitas Charles Darwin, Peter Kyne, yang tidak terlibat dalam penelitian itu, juga menyatakan hiu belum pernah tercatat sejauh itu ke selatan.
Menurut Kyne, perubahan iklim dan pemanasan lautan berpotensi mendorong hiu bergerak ke perairan yang lebih dingin di belahan selatan meski data distribusi spesies di sekitar Antarktika masih sangat terbatas karena wilayahnya terpencil.
"Ini luar biasa. Hiu berada di tempat yang tepat, kamera berada di tempat yang tepat, dan mereka mendapatkan rekaman yang luar biasa. Ini cukup signifikan," ucap Kyne.
Jamieson memperkirakan hiu sleeper yang bergerak lambat itu mungkin telah lama berada di wilayah tersebut tanpa terdeteksi dan populasinya di Samudra Antarktika kemungkinan jarang serta sulit diamati manusia.
Ia menjelaskan hiu tersebut mempertahankan kedalaman sekitar 500 meter karena lapisan itu merupakan bagian terhangat dari struktur air yang terstratifikasi hingga kedalaman sekitar 1.000 meter akibat perbedaan suhu dan kepadatan air yang tidak mudah bercampur.
Jamieson menduga hiu-hiu di kawasan itu hidup di kedalaman serupa dengan memangsa bangkai paus, cumi-cumi raksasa, serta makhluk laut lain yang tenggelam ke dasar.
Minimnya kamera penelitian di kedalaman tersebut serta keterbatasan operasi yang umumnya hanya berlangsung pada musim panas belahan selatan antara Desember hingga Februari membuat pemantauan tidak berlangsung sepanjang tahun.
"Selama 75 persen sisa tahun, tidak ada yang memantau sama sekali. Dan itulah mengapa, menurut saya, kita sesekali menemukan kejutan-kejutan ini," tutup Jamieson.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]