WAHANANEWS.CO, Jakarta - Asia Tenggara diperkirakan menghadapi musim panas yang jauh lebih panas dari biasanya pada 2026, sebuah kondisi yang berpotensi memicu lonjakan kebutuhan energi sekaligus membebani jaringan listrik di berbagai negara termasuk Indonesia.
Kondisi tersebut muncul di tengah situasi geopolitik yang memanas setelah konflik Amerika Serikat dan Israel melawan Iran mengganggu pasokan energi global.
Baca Juga:
Gelombang Panas Ekstrem di Meksiko, 48 Korban Tewas Sejak Maret 2024
Menurut prakiraan musiman terbaru Pusat Meteorologi Khusus ASEAN (ASMC), suhu di sebagian besar wilayah maritim dan daratan Asia Tenggara diprediksi berada di atas rata-rata pada periode Maret hingga Mei 2026.
Prakiraan tersebut dilaporkan Bloomberg melalui Bangkok Post dan dipublikasikan Selasa (9/3/2026).
Hasil proyeksi itu pertama kali dirilis pada Jumat (6/3/2026) ketika konflik di Timur Tengah mulai mengganggu jalur transportasi energi serta produksi di sejumlah kawasan penting.
Baca Juga:
Alasan Ilmiah Mengapa Indonesia Luput dari Gelombang Panas
Gangguan tersebut memicu lonjakan harga energi global dan meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi di Asia.
Jika gangguan pasokan energi berlangsung lama, sejumlah pembangkit listrik di Asia Tenggara yang masih bergantung pada bahan bakar fosil berpotensi menghadapi tekanan operasional yang berat.
Risiko tersebut diperkirakan akan semakin meningkat pada April hingga Mei ketika suhu di kawasan diprediksi mencapai puncaknya.