WAHANANEWS.CO, Jakarta - Nilai ekonomi karbon biru yang tersimpan di ekosistem pesisir Indonesia disebut mencapai ratusan miliar dolar Amerika Serikat dan berpotensi menjadi sumber bisnis baru di masa depan.
Karbon biru merupakan karbon yang ditangkap dan disimpan oleh lautan serta ekosistem pesisir seperti mangrove, padang lamun, dan rawa pasang surut yang mampu menahan emisi karbon dalam jangka waktu sangat panjang.
Baca Juga:
Suhu Bisa 100 Persen di Atas Normal, Asia Tenggara Bersiap Hadapi Panas Ekstrem
Besarnya potensi tersebut terlihat dari upaya konservasi dan restorasi mangrove di Indonesia yang mampu menyerap sekitar satu juta ton karbon dioksida (CO2) ekuivalen setiap tahun.
Jika dihitung dengan harga karbon yang berkisar antara lima hingga 20 dolar AS atau sekitar Rp84.000 hingga Rp338.000 per ton, maka nilai ekonominya dapat mencapai satu hingga dua miliar dolar AS atau setara Rp16 triliun sampai Rp33 triliun per tahun.
"Nah, kira-kira ini menjadi sebuah potensi yang bisa kita optimalkan ya, bisa kita manfaatkan untuk ke depan menjadi sumber ya bisnis baru, saya harapkan demikian," kata Kepala Pusat Riset Ekologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Asep Hidayat dalam webinar Beyond Basic Science pada wartawan, dikutip Minggu (15/3/2026).
Baca Juga:
Hiu Raksasa Terekam di Laut Antarktika, Ilmuwan Patahkan Mitos Lama
Potensi tersebut didukung oleh kondisi ekosistem pesisir Indonesia yang sangat luas dan kaya, terutama mangrove dan padang lamun yang dikenal sebagai penyimpan karbon alami yang efektif.
Indonesia tercatat sebagai negara dengan luas hutan mangrove terbesar di dunia yang mencapai lebih dari 20 persen dari total mangrove global.
Selain itu, Indonesia juga memiliki padang lamun terbesar di kawasan Indo-Pasifik dengan luas sekitar 600.000 hektar.