WAHANANEWS.CO, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan analisis terbaru terkait dinamika atmosfer di Indonesia periode dasarian III Mei 2026, hari ini, Rabu (3/6/2026).
Lantas, bagaimana perkembangan fenomena iklim El Nino dan musim kemarau di Indonesia tahun ini?
Baca Juga:
Kemenag Gelar Sidang Isbat Penentu Idul Adha Hari Ini, Simak Jadwalnya
BMKG mengungkapkan, hasil monitoring pada Dasarian III Mei 2026 menunjukkan indeks IOD dasarian (indeks bulanan) sebesar -0.92 (-0.56). Namun, BMKG menegaskan, meski nilai indeks bulanan telah melewati batas normal, belum dapat dikategorikan sebagai fenomena IOD negatif karena baru berlangsung satu bulan.
Sementara, indeks ENSO Dasarian (ENSO bulanan) sebesar +1.04 (+1.00) menunjukkan indikasi El Nino Condition. Sebelumnya, BMKG mengingatkan, ada peluang kurang dari 20% fenomena El Nino di berkembang jadi kategori kuat.
Mengutip penjelasan BMKG, El Nino-Southern Oscillation (ENSO) adalah anomali suhu permukaan laut di Samudera Pasifik di pantai barat Ekuador dan Peru yang lebih tinggi daripada rata-rata normalnya.
Baca Juga:
Idul Adha 2026 Diprediksi Terik Menyengat, BMKG Ingatkan Hujan Bisa Datang Tiba-Tiba
Salah satu fase ENSO adalah Fase El Nino. Pada fase ini, angin pasat yang biasa berhembus dari timur ke barat melemah atau bahkan berbalik arah. Pelemahan ini dikaitkan dengan meluasnya suhu muka laut yang hangat di timur dan tengah Pasifik. Air hangat yang bergeser ke timur menyebabkan penguapan, awan, dan hujan pun ikut bergeser menjauh dari Indonesia. Hal ini berarti Indonesia mengalami peningkatan risiko kekeringan.
Dalam istilah ilmu iklim saat ini, jelas BMKG, El Nino menunjukkan kondisi anomali suhu permukaan laut di Samudera Pasifik ekuator bagian timur dan tengah yang lebih panas dari normalnya, sementara anomali suhu permukaan laut di wilayah Pasifik bagian barat dan perairan Indonesia yang biasanya hangat (warm pool) menjadi lebih dingin dari normalnya.
Pada saat terjadi El Nino, daerah pertumbuhan awan bergeser dari wilayah Indonesia ke wilayah Samudra Pasifik bagian tengah sehingga menyebabkan berkurangnya curah hujan di Indonesia.