"Karena pada dasarnya teleskop fungsinya untuk mengumpulkan cahaya yang masuk, sehingga hilal bisa berpotensi terlihat," lanjut dia.
Andi menyebut teleskop khusus pengamatan hilal biasanya punya ukuran lensa antara 25-50 cm dengan panjang hingga 50cm.
Baca Juga:
Lebaran 1446 H Tanpa Perbedaan, Kemenag: 1 Syawal 1446 H Jatuh pada 31 Maret 2025
Selain itu, pengamat bisa menggunakan teodolit, sejenis alat yang mengukur sudut vertikal dan horizontal secara presisi, yang bisa dilengkapi dengan lensa.
Bagaimana teknisnya?
Pengamat, katanya, akan membidikkan teleskop, monokuler, dan binokulernya ke arah Matahari. Setelah Matahari terbenam, observer mengarahkan secara manual ke posisi hilal sesuai hasil perhitungan.
Baca Juga:
Aceh Jadi Titik Awal, Hilal Ramadan 1446 H Terpantau di Beberapa Wilayah Indonesia
Metode lainnya yang digunakan pengamat adalah stacking atau penumpukan gambar.
"Jadi kita mengambil citra hilal dalam interval tertentu, misalkan 5 menit. Kita ambil, misalnya, 10 gambar dan kita tumpuk. Jadi citra hilal yang tipis itu kalau semakin ditumpuk akan terlihat lebih tebal," jelas Andi.
Jika jenis teleskop yang digunakan sudah bisa melacak otomatis objek, ia menyebut pengamat tinggal mengunci objek dan otomatis teleskop akan mengarah ke objek yang dituju.