Melansir CNN, Elberling berkata penguin melepaskan kotoran yang mengandung bakteri ke tanah setelah mengisi perutnya. Bakteri di tanah kemudian mengubah zat pada kotoran itu menjadi nitro oksida, gas rumah kaca yang dikenal sebagai gas tertawa.
"Jelas bagi kita bahwa tingkat nitro oksida sangat tinggi di tempat-tempat di mana ada penguin dan sebaliknya lebih rendah di tempat-tempat di mana tidak ada penguin," ujar Elberling.
Baca Juga:
Kini Tinggal Kenangan, Turkmenistan Pernah Gratiskan Listrik dan Gas 24 Tahun
Elberling mengatakan pengetahuan tentang bagaimana kotoran penguin mempengaruhi Bumi dan atmosfer sangat relevan dalam perang melawan gas rumah kaca yang merusak iklim.
Gas tawa memang dikenal dengan nama kimia Dinitrogen oksida (N2O) atau nitrous oxide.
Ketika dihirup, orang akan merasakan keinginan untuk tertawa terbahak-bahak tanpa sebab yang jelas. Gas ini juga diketahui digunakan dalam lomba balap mobil untuk menambah laju kendaraan (NOS) serta sebagai anastesi oleh dokter gigi.
Baca Juga:
Per Hari Ini, Prabowo Instruksikan LPG 3 Kg Kembali Dijual di Pengecer
Kewaspadaan soal bahaya gas tertawa meningkat setelah banyaknya remaja yang masuk rumah sakit dan meninggal setelah berlebihan menghirup gas ini. [rin]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.